Tampilkan postingan dengan label WAFATNYA ULAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAFATNYA ULAMA. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

CINTA ULAMA

MAHABBAH KEPADA SEORANG GURU

Allah swt berfirman:
} ﻗَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ
ﻳَﺮْﺟُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ { ] ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ:
[21
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.” QS. Al Ahzab: 21.

Seringkali kita dengar dari segelintir orang berkata:JANGANLAH KALIAN BERGURU PADA SATU GURU TAPI BELAJARH KEPADA BANYAK GURU.
Dan walhasil perkataan ini akan menjurus kepada ucapan SALAFI WAHABI yaitu jangan TAQLID BUTA.subhanallah,jangan sampai mensalah artikan ucapan ini karna segala sesuatu akan kamu pertanggung jawabkan kelak di akhirat nanti kawan.
Belajar pada seorang guru yang kita yaqini keistiqomahannya itu lebih afdhol dari kita belajar kepada buku ataupun dari seorang guru yang Keluar dari aqidah ahlu sunnah.daN jangan sekali-kali anda menyamakan kecintaan murid kepada gurunya anda katakan FANATIK BUTA atau TAQLID BUTA,karena aqidah ahlu sunnah menghalalkan taqlid kepada seorang guru yang diyakini keistiqomahannnya dan ini jelaz bukanlah Taqlid buta karena perilaku ini adalah MAHABBAH yang sudah dilakukan oleh para ulama sebagaimana kecintaannya syekh ali baros kepada habib umar al-attos shohibur rotib dan sebagaimana kecintaannya Allahu yarham habibana mundzir al-musawwa terhadap sang guru mulia habib umar bin salim bin hafidh shohibul maulid dan perilaku ini wajib ditiru bagi para muhibbin sejati seperti kita.
Berhati-hatilah dari perkataan orang yang mendahulukan hawa nafsunya dRipadA ilmunyA,dan jangan sampai kecintaan kita terhadap habibana mundzir al-musawwa luntur karena perkataan-perkataan yang tidak jelas sumbernya dan ingatlah sabda nabi muhammad saw ini:
ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻗَﺎﻝَ ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺘَﻰ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ
ﻗَﺎﻝَ » ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻋْﺪَﺩْﺕَ ﻟِﻠﺴَّﺎﻋَﺔِ .« ﻗَﺎﻝَ ﺣُﺐَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ
ﻗَﺎﻝَ » ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ .« ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﻓَﻤَﺎ ﻓَﺮِﺣْﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ
ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻓَﺮَﺣًﺎ ﺃَﺷَﺪَّ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ- » ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ .« ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﻓَﺄَﻧَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﻓَﺄَﺭْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ
ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺃَﻋْﻤَﻞْ ﺑِﺄَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ .
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
bercerita: “Pernah seorang lelaki datang
menenmui Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai
Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau
bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk
hari kiamat”, orang tersebut menjawab:
“Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”,
beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu
bersama yang engkau cintai” , Anas berkata:
“Kami tidak pernah gembira setelah masuk
Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
“Sesungguhnya kamu bersama yang engkau
cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya,
Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku
bersama mereka meskipun aku tidak beramal
seperti amalan mereka.” (HR. Muslim)


Di Akhirat kelak kita akan dikumpulkan
bersama orang – orang yang kita cintai. Itulah
salah satu peringatan yang mengabarkan
kepada kita akan pentingnya untuk berhati –
hati menjatuhkan cinta kita. Sungguh, siapa
yang kita cintai di dunia yang sebetar ini akan
menentukan dengan siapa kita dikumpulkan di
akhirat yang kekal kelak. Sungguh miris
melihat keadaan saat ini, banyak orang yang
sudah lupa akan kewajibannya untuk
membalas cinta dari Seorang yang paling
mencintainya melebihi semua orang di dunia
ini,

wassalam

Minggu, 15 September 2013

HANYA IBLIS YANG SENANG AKAN KEMATIAN SEORANG ULAMA

HANYA IBLIS YANG SENANG AKAN KEMATIAN SEORANG ULAMA
Dalam Kitab Tanqih Al-Qaul Imam Al-Hafizh
Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar
As-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sbb:
ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ: } ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻥْ ﻟِﻤَﻮْﺕِ
ﺍﻟﻌَﺎﻟِﻢِ ، ﻓَﻬُﻮَ ﻣُﻨَﺎﻓِﻖٌ ﻣُﻨَﺎﻓِﻖٌ ﻣُﻨَﺎﻓِﻖٌ { ﻗﺎﻟﻬﺎ ﺛﻼﺙ
ﻣﺮﺍﺕ ”Barangsiapa yang tidak sedih dengan
kematian ulama maka dia adalah munafik”
Menagislah karena meninggalnya seorang
ulama adalah sebuah perkara yang besar di
sisi Allah. Sebuah perkara yang akan
mendatangkan konsekuensi bagi kita yang
ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-
orang yang senantisa mendengar petuah
mereka. Menangislah jika kita ternyata selama
ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada
para ulama. ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ، ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﺃَﻭَﻟَﻢْ
ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺃَﻧَّﺎ ﻧَﺄْﺗِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽَ ﻧَﻨْﻘُﺼُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﻃْﺮَﺍﻓِﻬَﺎ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺮﻋﺪ
ﺁﻳﺔ 41 ﻗﺎﻝ : ﻣﻮﺕ ﻋﻠﻤﺎﺋﻬﺎ . ﻭﻟﻠﺒﻴﻬﻘﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ
ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺑﻦ ﺧﺮﺑﻮﺫ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺟﻌﻔﺮ ، ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﻣﻮﺕ
ﻋﺎﻟﻢ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻣﻦ ﻣﻮﺕ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻋﺎﺑﺪﺍ
Dari Ibnu Abbas ra. tentang firman Allah,
“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa
sesungguhnya Kami mendatangi daerah-
daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu
(sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-
Ra’d: 41). Beliau mengatakan tentang ( ﻣِﻦْ
ﺃَﻃْﺮَﺍﻓِﻬَﺎ = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya
para ulama. Dan menurut Imam Baihaqi dari
hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far
ra berkata, “Kematian ulama lebih dicintai iblis
daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”
Al-Quran secara implisit mengisyaratkan
wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab
kehancuran dunia, yaitu firman Allah yang
berbunyi:
ﺃَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺃَﻧَّﺎ ﻧَﺄْﺗِﻲ ﺍﻷﺭْﺽَ ﻧَﻨْﻘُﺼُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﻃْﺮَﺍﻓِﻬَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ
ﻳَﺤْﻜُﻢُ ﻻ ﻣُﻌَﻘِّﺐَ ﻟِﺤُﻜْﻤِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﺳَﺮِﻳﻊُ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏِ
“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa
sesungguhnya Kami mendatangi daerah-
daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu
(sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-
Ra’d: 41).
Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu
Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan
kehancuran bumi (kharab ad-dunya).Sedan
gkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah
dengan meninggalnya para ulama (Tafsir
Ibnu Katsir 4/472)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga
menegaskan wafatnya para ulama sebagai
musibah. Rasulullah bersabda:
ﻣَﻮْﺕُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ ﻻ ﺗُﺠْﺒَﺮُ ، ﻭَﺛُﻠْﻤَﺔٌ ﻻ ﺗُﺴَﺪُّ , ﻭَﻧَﺠْﻢٌ
ﻃُﻤِﺲَ ، ﻣَﻮْﺕُ ﻗَﺒِﻴﻠَﺔٍ ﺃَﻳْﺴَﺮُ ﻣِﻦْ ﻣَﻮْﺕِ ﻋَﺎﻟِﻢٍ
Artinya: “Meninggalnya ulama adalah musibah
yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran
yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama
laksana bintang yang padam. Meninggalnya
satu suku lebih mudah bagi saya daripada
meninggalnya satu orang ulama” (HR al-
Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-
Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu
Darda’)
Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu
Umat manusia dapat hidup bersama para
ulama adalah sebagian nikmat yang agung
selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita
dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik
hikmah, mengambil keteladanan dan
sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat,
maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah
yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam,
ﺧُﺬُﻭﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺬْﻫَﺐَ ” ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﻳَﺬْﻫَﺐُ
ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻗَﺎﻝَ :ﺇِﻥَّ ﺫَﻫَﺎﺏَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺃَﻥْ ﻳَﺬْﻫَﺐَ
ﺣَﻤَﻠَﺘُﻪُ
Artinya: “Ambillah (Pelajarilah) ilmu sebelum
ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai
Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa
pergi (hilang)?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam menjawab, “Perginya ilmu adalah
dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang
membawa ilmu (ulama)” (HR Ad-Darimi, At-
Thabrani No 7831 dari Abu Umamah).
Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat
besar, diantaranya munculnya pemimpin baru
yang tidak mengerti tentang agama sehinga
dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam
hadits sahih.
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻧﺘﺰﺍﻋﺎ ﻳﻨﺘﺰﻋﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ،
ﻭﻟﻜﻦ ﻳﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﺘﺮﻙ
ﻋﺎﻟﻤﺎ ﺍﺗﺨﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺀﻭﺳﺎ ﺟﻬﺎﻻ ﻓﺴﺌﻠﻮﺍ ﻓﺄﻓﺘﻮﺍ ﺑﻐﻴﺮ
ﻋﻠﻢ ﻓﻀﻠﻮﺍ ﻭﺃﺿﻠﻮﺍ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut
ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu
dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika
Allah tidak menyisakan satu ulama, maka
manusia mengangkat pemimpin-pemimpin
bodoh, mereka ditanya kemudian memberi
fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan
menyesatkan” (HR al-Bukhari No 100)
Kendatipun telah banyak kyai atau ulama yang
telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama
adalah sebuah musibah dalam agama, maka
harapan kita adalah lahirnya kembali ulama
yang meneruskan perjuangannya. Aamiin
Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh
Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi
Thalib:
ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺛﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺛﻠﻤﺔ ﻻ ﻳﺴﺪﻫﺎ ﺍﻻ
ﺧﻠﻒ ﻣﻨﻪ Artinya: “Jika satu ulama wafat,
maka ada sebuah lubang dalam Islam yang
tak dapat ditambal kecuali oleh generasi
penerusnya” (Ihya Ulumiddin I/15). Wallahu
a’lam bis-Shawab