Tampilkan postingan dengan label Ahlul beit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlul beit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

Dakwah habib umar bin hafidh

“Dakwah Al-Habib Umar bin Hafidz di Afrika
Dihadang oleh Singa!”
Suatu saat al-Habib Umar bin Hafidz ingin
melakukan perjalanan dakwah ke pedalaman
Afrika. Ketika itu beliau ditemani oleh seorang
muallaf bernama Khomis. Khomis adalah salah
satu diantara orang-orang yang masuk Islam
melalui perantara tangan al-Habib Ahmad
Masyhur bin Thaha al-Haddad dan sering
membantu kegiatan dakwah beliau selama di
daerahnya.
Pedalaman Afrika yang ingin dikunjungi oleh al-
Habib Umar harus melewati hutan belantara,
yang mana hutan belantara Afrika terkenal akan
hewan buasnya. Tapi dengan mantap Habib
Umar bin Hafidz memberikan isyarat untuk
segera berangkat.
Dimulailah perjalanan dakwah beliau. Sebelum
masuk ke dalam hutan, beliau beserta
rombongan dihentikan oleh beberapa orang polisi
yang sedang berjaga di sebuah pos dekat dengan
hutan yang ingin dilalui oleh al-Habib Umar.
Mereka hendak memperingatan agar al-Habib
Umar tidak memasuki hutan karena hari sudah
malam. Ditakutkan beliau dan rombongan akan
diserang oleh beberapa hewan buas yang keluar
untuk mencari mangsa di saat malam tiba.
Al-Habib Umar pun keluar dari mobil yang
ditumpanginya dan berdiri di samping mobil
tersebut. Serta merta al-Habib Umar
memerintahkan seseorang untuk menggelar tikar
di dekat mobil dan memerintahkan rombongan
untuk membaca Maulid al-Habsyi (Simthud
Durar). Pembacaan maulid pun dimulai. Karena
para polisi yang berjaga di pos itu beragama
Kristen, mereka pun hanya bisa menonton dari
kejauhan.
Setelah pembacaan maulid selesai, al-Habib
Umar mendapat isyarat untuk melanjutkan
perjalan malam itu juga. Para polisi itu tetap
berusaha untuk mencegahnya, tapi al-Habib
Umar bersikeras ingin melanjutkan
perjalanannya. Para polisi pun kalah argumen
dan berinisiatif untuk mengikuti al-Habib Umar
dari belakang menggunakan mobil lain, takut
kalau tejadi apa-apa dengan al-Habib Umar dan
rombongan.
Di tengah perjalanan hal yang dikhawatirkanpun
terjadi. Di depan mobil yang ditumpangi oleh al-
Habib Umar, muncul seekor singa. Ketika itu al-
Habib Umar duduk di kursi depan. Mulailah
singa itu mengitari mobil tersebut. Walaupun
demikian sang Habib tetap tenang, berbeda
dengan rombongan lain yang mulai menunjukkan
rasa ketakutannya.
Tak lama kemudian singa itu berhenti di depan
jendela sebelah tempat duduk al-Habib Umar,
lalu menaikkan kaki depannya ke atas jendela.
Al-Habib Umar pun tetap tenang tanpa
menunjukkan rasa ketakutan sedikitpun. Lalu
beliau berkata kepada supir: “Turunkan jendela
ini!”
Supir pun menjawab dengan ketakutan: “Ya
Habib, ini singa!”
Tapi al-Habib Umar tetap ingin agar dia
menurunkan jendela tersebut. Kaca jendela pun
diturunkan. Suatu kejadian menakjubkan pun
terjadi, al-Habib Umar mengajak bicara singa
tersebut! “Hai singa! Kami ini adalah utusan
Rasulullah Saw.”
Kemudian al-Habib Umar mengambil sebuah
pisang dan memberikannya kepada singa itu.
Singa yang biasanya makan daging, kali ini mau
memakan pisang yang diberikan al-Habib Umar.
Setelah memakan pisang itu, singa mengangguk-
anggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan al-
Habib Umar dan rombongan. Perjalanan pun
kembali dilanjutkan. Tak lama kemudian al-
Habib Umar dan rombongan sampai ke tempat
tujuan.
Setelah menyaksikan kejadian yang luar biasa
itu, para polisi yang sebelumnya beragama
Kristen itupun ingin mengikrarkan diri mereka
untuk masuk agama Islam. Ternyata kejadian
yang mereka saksikan menjadi sebab hidayah
Allah Swt. yang ingin mengembalikan mereka ke
dalam pelukan Islam.
Diculik dan diedit dari tulisan KH. Mukhlas Noer
(Ketua Ponpes Lirboyo Kediri). Kisah ini juga
pernah disinggung oleh almarhum al-Habib
Mundzir bin Fuad al-Musawa.

Kamis, 31 Oktober 2013

DIALOG IMAM AL BAGIR

Menyimak Diskusi Santai antara
Abu Hanifah dan Al-Baqir .
Imam Muhammad Al-Baqir (57-114.H) adalah
salah seorang keturunan Nabi SAW yang sudah
sangat terpopuler di kota Madinah. Al-Baqir
seringkali dikunjungi tokoh-tokoh besar yang
hidup di masanya, semisal
Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin
Uyainah dan Imam Abu Hanifah
(80-150 H). Di sini ada sebuah
obrolan menarik antara Imam Abu Hanifah dan
Imam Al-Baqir yang patut kita simak.
Di sela kunjungan pertama Abu
Hanifah, Imam Al-Baqir langsung
menyudutkan dengan pertanyaan
(lebih tepatnya klarifikasi). “Anda
yang merubah agama kakekku (Nabi SAW) dan
hadis-hadisnya dengan konsep qiyas?” Al-Baqir
membuka obrolannya.
Imam Abu Hanifah menjawab “Ya Sidi, tetap
duduk di tempatmu karena anda memiliki hak
untuk dihormati sebagaimana pesan kakekmu.”
Abu Hanifah kemudian berlutut di hadapan
Imam Al-Baqir sembil melanjutkan obrolan
“sekarang saya yang akan
menanyakanmu tiga pertanyaan,
tolong dijawab! Pertama, siapa yang lebih lemah
[secara fisik], lelaki atau wanita?” Al-Baqir
menjawab “wanita”. Abu Hanifah “berapa jatah
wanita [dalam warisan]?” “Lelaki dua dan
wanita satu” ucap Al-Baqir tegas. “Nah, itu
adalah perkataan kakekmu
(Muhammad SAW). Seandainya saya telah
merubah agama kakekmu, maka yang tepat
menurut teori qiyas: jatah lelaki satu dan
wanita dua… karena
wanita lebih lemah dari lelaki”.
“Kedua, lebih utama mana antara
shalat dan puasa?” Abu Hanifah
meneruskan. “Shalat lebih utama”
jawab Al-Baqir. “Itu perkataan
kakekmu. Seandainya saya telah
merubahnya, saya akan mengatakan bahwa
perempuan setelah tuntas darah haidnya wajib
meng qadla’ (mengganti) shalatnya [karena
shalat lebih utama], bukan mengganti puasa.”
Abu Hanifah kembali menimpali.
“Ketiga, mana yang lebih najis antara kencing
dan sperma? ”pertanyaan ketiga dilontarkan Abu
Hanifah. “Kencing lebih najis” ucap Al-Baqir.
“Seandainya saya telah merubah agama
kakekmu, saya akan menyuruh orang yang
kencing untuk mandi dan orang yang keluar
sperma agar berwudlu’ saja. Saya berlindung
pada Allah SWT , agar tidak sampai merubah
agama kakekmu dengan konsep qiyas.” Imam
Abu Hanifah menutup obrolan. Seketika Imam
Al-Baqir memeluk Abu Hanifah dan mencium
keningnya untuk kemudian dipersilahkan duduk
secara terhormat.
Dalam obrolan singkat ini banyak
hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik.
Diantaranya, ulama masa lalu gemar sekali
berdiskusi karena ilmu pengetahuan akan
mencapai kematangannya setelah didiskusikan.
Ulama klasik bukan tipikal kelompok
yang mudah mengklaim dan
menjustifikasi orang yang berbeda pendapat
sebagai pihak yang salah. Rasionalitas yang
dikembangkan oleh ulama klasik adalah
rasionalitas yang tak sampai melabrak hukum
dan
kesepakatan kaum Muslimin.
Kisah ini juga memotret tentang sikap saling
menghormati antara ulama: Al-Baqir sebagai
pakar fikih Madinah dan Abu Hanifah
sebagai pakar sekaligus imam
mazhab.
Kisah di atas saya kutip dari buku
Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah karya Imam
Abu Zuhrah, seorang ulama Al-Azhar yang
hidup antara 1898-1964 M dan terkenal sangat
produktif.
Wallahu a’lam