Waspadalah
terhadap mereka. Karena kedengkian, mereka
memang sedang menantikanmu terjatuh dalam
keraguan, lalu mematahkanmu dengan
prasangka, mata mereka menguntitmu dari
belakang, mereka terus mengingat kesalahanmu
saat bergaul dengan mereka sehingga hal itu
bisa menjadi senjata untuk menghadapimu
ketika mereka marah dan berdebat kusir.
Mereka tak akan memaafkan dan mengampuni
kesalahanmu itu, serta tidak pula menutupi
aibmu. Mereka selalu membuat perhitungan
denganmu, dengki baik pada yang sedikit
maupun yang banyak, serta terus
menghasungmu untuk mencela dan membenci te
man dan saudara. Jika senang, mereka akan
bertutur kata manis. Sebaliknya, jika marah
dalam hati mereka terpendam murka. Dari luar
yang tampak pakaiannya, sementara dari
dalam mereka layaknya serigala. Inilah yang
terjadi pada sebagian besar mereka, kecuali
orang-orang yang dilindungi Allah Swt.
Bergaul dengan mereka hanya membawa
kerugian dan berteman dengan mereka hanya
membawa penyesalan.
Itu sikap mereka yang menunjukkan
persahabatan denganmu. Lalu bagaimana
dengan mereka yang jelas-jelas memusuhimu?
Al-Qadhi Ibn Ma'ruf rahimahullah Ta'ala.
berkata:
Berhati-hatilah terhadap musuhmu sekali
namun berhati-hatilah terhadap temanmu
seribu kali
Bisa jadi temanmu itu berubah
dan dikenal paling berbahaya
Makna yang sama juga terdapat dalam syair
berikut:
Musuhmu lebih bermanfaat daripada
sahabatmu
Maka itu, jangan engkau memperbanyak
sahabat
Sungguh kebanyakan penyakit yang kau lihat
berasal dari makanan atau minuman
Berusahalah engkau menjadi seperti yang
dikatakan oleh Hilal bin al-Ala' ar-Raqi:
Ketika aku memberi maaf dan tidak dengki
pada seseorang
Aku istirahatkan diriku dari risaunya
permusuhan
Aku hormati musuhku manakala melihatnya
guna menghilanghan keburukanku dengan
penghormatan
Aku tampakkan keceriaan pada orang yang
kumurka
Seakan-akan ia telah membuat hatiku
bahagia
Aku tak selamat dari orang yang tak kukenal
maka bagaimana aku bisa selamat dari
orang yang kucinta
Manusia adalah penyakit dan obatnya adalah
meninggalkan mereka
tapi memusuhi mereka berarti memutuskan
hubungan saudara
Berdamailah dengan mereka agar engkau
selamat dari musibahnya
dan usahakan selalu untuk mendapatkan
cinta
Bergaullah dengan manusia dan sabarlah
dalam menghadapi mereka
Hendaknya engkau tuli, bisu, dan buta, serta
warak
Demikian pula hendaklah engkau seperti yang
disebutkan oleh Para ahli hikmat: Hadapilah
teman yang dan musuhmu dengan wajah rida,
tidak bersikap hina, dan tidak pula takut pada
mereka. Sebaliknya engkau harus berwibawa,
tapi tidak sombong dan harus bersikap
tawadu. Jadi, pada semua persoalan, engkau
harus bersikap pertengahan. Sebab, semua
yang ekstrem akan tercela, sebagaimana
disebutkan:
Engkau harus bersikap pertengahan karena
ia
merupakan cara yang tepat menuju jalan
yang benar
Jangan engkau teledor atau keterlaluan di
dalamnya
karena masing-masing sikap itu adalah
tercela
Jangan engkau melihat ke arah samping,
jangan banyak menoleh ke belakang, serta
jangan memperhatikan kelompok-kelompok
orang. Apabila engkau duduk, maka duduklah
dengan tidak tergesa-gesa. Hindarilah mema
sukkan jari-jarimu ke dalam jari-jari yang lain,
memainkan janggut atau memainkan cincinmu,
membersihkan gigi, memasukkan jari ke
hidung, banyak meludah, mengusir lalat dari
wajah, serta hilir-mudik di depan orang-orang
dan di dalam salat.
Duduklah dengan tenang. Aturlah bicaramu dan
dengarkan ucapan yang baik yang datang dari
orang lain dengan tidak keterlaluan dalam
menunjukkan kekaguman. Jangan memintanya
untuk mengulang. Berpalinglah dari
pembicaraan yang membuat tawa dan yang
berupa kisah. Jangan engkau beritakan
kekagumanmu tentang anakmu. Juga, jangan
kau sampaikan syair, pembicaraan, tulisan,
serta semua yang khusus untukmu. Jangan
berhias seperti wanita. Jangan merendahkan
diri seperti seorang budak. Jangan terlalu
banyak bercelak dan dipoles. Jangan memaksa
ketika butuh dan jangan menghasung orang lain
untuk berbuat lalim.
Jangan engkau memberitahukan jumlah harta
kekayaanmu kepada salah seorang keluargamu,
kepada anakmu, apalagi kepada orang lain.
Karena, jika mereka melihatnya sedikit, engkau
akan hina di mata mereka dan jika banyak,
mereka tak akan senang kepadamu. Hindari
mereka tapi tidak dengan sikap keras.
Lembutlah pada mereka tapi tidak dengan sikap
lemah. Jangan engkau candai ibumu atau
budakmu, karena dengan demikian harga
dirimu bisa jatuh. Apabila engkau berselisih
maka tetap jaga wibawa dan kehormatan.
Jangan sampai engkau berbuat jahil dan
tergesa-gesa. Berpikirlah terlebih dahulu
sebelum mengeluarkan argumen. Jangan
banyak menunjuk dengan tangan. Jangan ba
nyak menoleh ke orang di belakangmu. Jangan
berlutut.
Apabila marahmu telah mereda, baru berbicara.
Jika sultan atau penguasa mendekatimu,
engkau harus betul-betul waspada
terhadapnya. Hindarilah teman yang ada
maunya, karena ia musuh yang paling utama.
Dan jangan sampai engkau lebih memuliakan
harta ketimbang kehormatanmu.
Penjelasan ini cukup bagimu sebagai
permulaan dari sebuah hidayah. Cobalah
dirimu untuk mengaplikasikannya. Jadi ada
tiga bagian: melakukan amal ketaatan,
meninggalkan maksiat, dan bergaul dengan
sesama. Itu semua sudah mencakup hubungan
antara seorang hamba dan Khalik serta
makhluk-Nya. Jika engkau merasa hal itu
sesuai dengan dirimu, kemudian engkau
condong serta ingin melakukannya, berarti
Allah telah memercikkan cahaya iman ke dalam
hatimu dan telah melapangkan dadamu.
Sadarilah bahwa permulaan ini mempunyai
akhir dan di baliknya ada berbagai rahasia,
pengetahuan, dan hal-hal yang tersingkap.
Semua itu telah kami jelaskan dalam Kitab
Ihya' Ulumiddin . Karena itu berusahalah untuk
mempelajarinya. Namun, jika engkau merasa
berat dalam melakukan berbagai pelajaran di
atas, lalu mengingkarinya dan engkau berkata
pada dirimu sendiri, "Apa gunanya ilmu
tersebut dalam forum para ulama? Kapankah
pengetahuan tersebut bisa membuatmu
mengalahkan para rekan dan rival? Bagaimana
ia bisa menaikkan kedudukanmu di
pemerintahan? Bagaimana mungkin ia bisa
menyebabkanmu memperoleh harta serta
jabatan ahli wakaf dan hakim?" Maka sadarlah
bahwa setan telah menjerumuskanmu dan telah
membuatmu lupa terhadap tempat kembalimu.
Maka itu carilah setan lain yang sejenis
denganmu guna mengajarkan apa yang kau
sangka bermanfaat dan bisa mengantarmu
memperoleh keinginanmu. Kemudian,
ketahuilah bahwa milikmu yang berada di
tempatmu tidak betul-betul murni menjadi
milikmu apalagi yang berada di desa.atau di
negerimu. Selain itu, engkau juga tak kan men
dapat kekayaan abadi dan nikmat yang kekal di
sisi Tuhan.
Wassalamualaikum wa rahmatullah wa
barakaatuhu . Segala puji bagi Allah, Yang
Mahapertama, Yang Maha Terakhir, Yang
Mahatampak dan Yang Maha Tersembunyi.
Tak ada daya dan kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan
Mahaagung. Salawat dan salam atas Nabi
Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat
beliau semua.
Jumat, 08 November 2013
Adab bersahabat IV
Adab bersahabat III
5. Jujur. Jangan engkau bersahabat dengan
pembohong karena bisa jadi engkau tertipu
olehnya. Ia seperti fatamorgana. Ia membuat
dekat yang jauh darimu dan membuat jauh
yang dekat darimu.
Bisa jadi kelima hal ini tidak kau dapati pada
orang-orang yang berada di sekolah atau di
mesjid. Dengan demikian, engkau harus
memilih salah satu, entah mengasingkan diri
karena hal itu akan membuatmu selamat, atau
engkau bergaul dengan mereka sesuai dengan
karakter mereka. Hendaknya engkau mengetahui
bahwa saudara itu ada tiga macam:(1) Saudara
untuk akhiratmu. Dalam hal ini engkau harus
melihat pada agamanya. (2) Saudara untuk
duniamu. Dalam hal ini, engkau harus
memperhatikan akhlaknya. (3) Saudara untuk
bersenang-senang Dalam hal ini engkau harus
selamat dari kejahatan, fitnah, dan
keburukannya.
Manusia itu ada tiga jenis: ada yang seperti
makanan dimana memang selalu diperlukan,
ada yang seperti obat di mana hanya sewaktu-
waktu saja diperlukan dan ada pula yang
seperti penyakit di mana sama sekali tak
diperlukan, tapi seorang hamba kadangkala
diuji dengannya. Jenis yang ketiga inilah yang
tidak menyenangkan dan tidak pula
memberikan manfaat Maka, engkau harus
berpaling darinya agar selamat. Ketika
menyaksikan tingkah lakunya kalau paham
engkau akan mendapatkan manfaat yang besar.
Yaitu, dengan menyaksikan kondisi dan
perbuatannya yang buruk, engkau akan
membenci dan menghindar darinya. Orang
yang bahagia adalah yang bisa mengambil
pelajaran dari orang lain. Seorang mukmin
merupakan cermin bagi mukmin yang lain.
Nabi Isa a.s. pernah ditanya, "Siapa yang
telah mengajarkan adab padamu?" Nabi Isa
a.s. menjawab, "Tak ada yang mengajariku.
Tapi aku melihat kejahilan orang bodoh, maka
aku pun menghindarinya." Benar sekali yang
beliau katakan. Seandainya manusia
meninggalkan apa yang mereka benci dari orang
lain, adab mereka akan menjadi sempurna dan
tak perlu lagi kepada para muaddib (orang
yang mengajarkan adab atau etika).
Tugas kedua,
Memperhatikan hak-hak persahabatan.
Manakala telah terjalin persekutuan, telah
terbina hubungan antara engkau dengan
temanmu itu, maka engkau harus
memperhatikan hak-hak dan adab-adab
persahabatan. Nabi Saw. bersabda,
"Perumpamaan dua orang saudara adalah
seperti dua tangan, yang satu membersihkan
yang lain." Nabi Saw. pernah masuk ke dalam
semak belukar lalu memetik dua ranting siwak,
yang satu bengkok dan yang satu lagi lurus.
Waktu itu beliau bersama para sahabatnya.
Lalu beliau memberikan yang lurus sedangkan
yang bengkok beliau simpan untuk dirinya
sendiri, lantas mereka bertanya, "Wahai
Rasulullah engkau yang lebih berhak atas
ranting yang lurus ini daripadaku." Nabi Saw.
menjawab, "Tidaklah seseorang menyertai
temannya walaupun sesaat di waktu siang,
melainkan ia ditanya, 'Apakah ia telah me
nunaikan hak Allah Swt. dalam
persahabatannya itu atau justru ia
melalaikannya.' Nabi Saw. juga berkata,
"Tidaklah dua orang bersahabat, melainkan
yang paling dicintai Allah Swt. adalah yang
paling mengasihi temannya."
Adab dalam bergaul atau bersahabat adalah
mengutamakan teman dalam hal harta. Jika
tidak, maka dengan mengeluarkan kelebihan
harta ketika dibutuhkan,atau membantu dengan
jiwa saat diperlukan secara langsung tanpa
diminta, menyimpan rahasia, menyembunyikan
aib, tak menyampaikan cemoohan orang
kepadanya,memberitakan pujian orang
kepadanya, penuh perhatian terhadap apa yang
dibicarakannya, memanggil dengan nama yang
paling disukainya, memuji kebaikannya,
berterima kasih atas bantuannya, membela
kehormatannya di saat ia tidak ada
sebagaimana ia membela kehormatannya
sendiri, menasihatinya dengan lemah lembut
dan jelas jika memang diperlukan, memaafkan
ketika ia salah dan tidak malah mencaci,
mendoakannya di saat berkhalwat dengan
Allah, baik ketika masih hidup maupun ketika
sudah meninggal, tetap setia kepada keluarga
dan kerabatnya manakala ia sudah meninggal
dunia, ikut meringankannya dan bukan justru
memberatkan hajatnya, menghibur hatinya dari
segala kerisauan, menampakkan kebahagiaan
atas kemudahan yang ia dapatkan, bersedih
atas hal buruk yang menimpanya,
menyembunyikan di dalam hati apa yang ia
sembunyikan sehingga ia benar-benar setia
secara lahir maupun batin, mendahuluinya
dalam mengucapkan salam ketika bertemu,
melapangkan majelis untuknya, membantunya
ketika berdiri, serta diam ketika ia berbicara
sampai selesai dengan tidak menyela atau
memotongnya. Ringkasnya, hendaknya ia
memperlakukan temannya itu sebagaimana ia
senang kalau diperlakukan demikian. Siapa
yang tak mencintai saudaranya sebagaima ia
mencintai dirinya sendiri, berarti ia telah
dihiasi nifak (sifat munafik). Ini merupakan
bencana baginya di dunia dan di akhirat. Itulah
adab-adab yang harus kau perhatikan
berkenaan dengan hak orang awam yang bodoh
dan hak para sahabat.
3. Bergaul Dengan Kenalan
Hati-hatilah terhadap mereka karena
sesungguhnya engkau tidak mengenal
keburukan kecuali dari orang yang telah kau
kenal. Adapun seorang teman, maka ia adalah
orang yang bisa membantumu, sedangkan
seorang awam tak akan berpengaruh bagimu.
Sesungguhnya keburukan itu semuanya
berasal dari para kenalan yang menampakkan
persahabatan lewat lidah mereka. Oleh karena
itu, usahakan untuk mengabaikan mereka.
Apabila engkau terpaksa berhadapan dengan
mereka di sekolah, di mesjid, di pasar, atau di
sebuah negeri, engkau tak boleh menghinakan
mereka. Sebab, engkau tak mengetahui bisa
jadi ia lebih baik darimu.
Jangan pula engkau mengagungkan dunia yang
mereka miliki karena engkau bisa binasa.
Sebab, dunia dan isinya dalam pandangan
Allah Swt. sangat kecil. Betapapun hebatnya
penduduk dunia menurutmu, ia tetap jatuh di
mata Allah Swt. Engkau tak boleh mengor
bankan agamamu guna mendapat dunia mereka.
Orang yang melakukan hal itu pasti menjadi
rendah di mata mereka, dan untuk selanjutnya
tak akan diberi. Apabila mereka memusuhimu,
jangan kau lawan dengan permusuhan pula
karena engkau tak mungkin bisa sabar
menghadapi perlawanan mereka karena
agamamu dapat menjadi pudar karenanya dan
engkau akan kepayahan.
Jangan merasa senang dengan penghormatan,
sanjungan, dan kecintaan yang mereka berikan.
Karena, sebenarnya satu persen pun hal itu
tak ada dalam hati mereka. Jangan engkau
kaget dan marah kalau mereka mencelamu
ketika engkau tidak ada, karena jika engkau
jujur, hal itu juga engkau lakukan bahkan
terhadap sahabat, kerabat, guru, dan kedua
orang tuamu. Engkau juga menyebut-nyebut di
belakang mereka apa yang tak kau ucapkan di
hadapan mereka. Jangan engkau bersikap
tamak terhadap harta, kedudukan, dan bantuan
mereka. Karena, orang yang tamak akan gagal
pada hari kemudian. Sikap tamak tersebut
betul-betul hina. Jika engkau meminta
kebutuhanmu pada seseorang, lalu ia
memenuhinya, maka berterima kasihlah pada
Allah dan padanya. Tapi manakala orang itu
tak bisa membantumu, jangan engkau mencela
dan mengeluhkannya karena hal itu bisa
menimbulkan sikap permusuhan. Jadilah
seorang mukmin yang selalu pemaaf. Jangan
menjadi seorang rnunafik yang hanya mencari
salah. Katakanlah, "Dia memang tak bisa
memberi karena alasan tertentu yang tak
kuketahui."
Jangan sekali-kali engkau menasihati seseorang
sebelum terlebih dahulu engkau melihat tanda-
tanda ia akan menerimanya. Jika tidak, ia tak
akan mendengar dan hanya akan menjadi
musuhmu. Jika mereka berbuat salah dalam
satu persoalan dan mereka tetap tak mau
belajar, maka jangan engkau mau mengajari
mereka. Sebab mereka hanya akan
memanfaatkan ilmumu dan akan menjadi
musuhmu. Kecuali jika sikap mereka itu terkait
dengan maksiat yang mereka lakukan, maka
ingatkan mereka pada kebenaran secara lemah
lembut dan tidak kasar. Jika engkau lihat sikap
mereka baik, bersyukurlah kepada Allah yang
telah menjadikanmu dicintai oleh mereka. Tapi
kalau mereka bersikap buruk, maka serahkan
diri mereka kepadaAllah Swt. Dan
berlindunglah engkau pada Allah Swt. dari
keburukan mereka itu. Jangan engkau mencerca
mereka. Begitu pula, jangan engkau berkata
pada mereka, "Mengapa engkautak
menghormatiku? Aku adalah Fulan bin Fulan.
Aku seorang yang mulia dalam segi ilmu." Itu
adalah ucapan seorang yang dungu. Orang
yang paling dungu adalah orang yang
menganggap dirinya bersih lalu menyanjung
diri sendiri. Ketahuilah bahwa Allah Swt.
membuat mereka bisa menguasaimu akibat
dosamu sebelumnya. Oleh karena itu,
istigfarlah terhadap dosamu itu dan sadarlah
bahwa hal itu merupakan hukuman Allah
atasmu. Perhatikan hak-hak mereka, abaikan
perbuatan batil mereka, ungkapkan kebaikan
mereka, serta diamkan keburukan mereka.
Janganlah engkau bergaul dengan Para fakih,
terutama mereka yang sibuk dengan
perselisihan dan perdebatan. Waspadalah
terhadap mereka. Karena kedengkian, mereka
memang sedang menantikanmu terjatuh dalam
keraguan, lalu mematahkanmu dengan
prasangka, mata mereka menguntitmu dari
belakang, mereka terus mengingat kesalahanmu
saat bergaul dengan mereka sehingga hal itu
bisa menjadi senjata untuk menghadapimu
ketika mereka marah dan berdebat kusir.
Mereka tak akan memaafkan dan mengampuni
kesalahanmu itu, serta tidak pula menutupi
aibmu.
Adab bersahabat II
Musa berkata,
ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺒْﻎِ ﻓَﺎﺭْﺗَﺪَّﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺁﺛَﺎﺭِﻫِﻤَﺎ ﻗَﺼَﺼﺎً
‘‘Itulah tempat yang kita cari,’ lalu keduanya
kembali mengikuti jejak mereka semula. ’ (QS.
Al-Kahfi: 64)
Setibanya mereka di batu tersebut, mereka
mendapati seorang lelaki yang tertutup kain,
lalu Musa memberi salam kepadanya
Khidir (orang itu) bertanya, ‘Berasal dari
manakah salam yang engkau ucapkan tadi?’
Musa menjawab, ‘Aku adalah Musa.’ Khidir
bertanya, ‘Musa yang dari Bani Israil?’ Musa
menjawab, ‘Benar!’
ﻫَﻞْ ﺃَﺗَّﺒِﻌُﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥ ﺗُﻌَﻠِّﻤَﻦِ ﻣِﻤَّﺎ ﻋُﻠِّﻤْﺖَ ﺭُﺷْﺪ . ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻚَ
ﻟَﻦ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴﻊَ ﻣَﻌِﻲَ ﺻَﺒْﺮﺍً
‘‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di
antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya
kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar
bersamaku.’ ‘ (QS. Al-Kahfi: 66–67)
Khidir berkata, ‘Wahai Musa, aku ini
mengetahui suatu ilmu dari Allah yang hanya
Dia ajarkan kepadaku saja. Kamu tidak
mengetahuinya. Sedangkan engkau juga
mempunyai ilmu yang hanya diajarkan Allah
kepadamu saja, yang aku tidak mengetahuinya.’
Musa berkata,
ﺳَﺘَﺠِﺪُﻧِﻲ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺻَﺎﺑِﺮﺍً ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻋْﺼِﻲ ﻟَﻚَ ﺃَﻣْﺮﺍً
‘Insya Allah, kamu akan mendapati aku
sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan
menentangmu dalam suatu urusan pun .’ (QS.
Al-Kahfi: 69)
Kemudian, keduanya berjalan di tepi laut.
Tiba-tiba lewat sebuah perahu. Mereka
berbincang-bincang dengan para penumpang
kapal tersebut agar berkenan membawa serta
mereka. Akhirnya, mereka mengenali Khidhir,
lalu penumpang kapal itu membawa keduanya
tanpa diminta upah.
Tiba-tiba, seekor burung hinggap di tepi
perahu itu, ia mematuk (meminum) seteguk
atau dua kali teguk air laut. Kemudian, Khidhir
memberitahu Musa, ‘Wahai Musa, ilmuku dan
ilmumu tidak sebanding dengan ilmu Allah,
kecuali seperti paruh burung yang meminum
air laut tadi!’
Khidhir lalu menuju salah satu papan perahu,
kemudian Khidhir melubanginya. Melihat
kejanggalan ini Musa bertanya, ‘Penumpang
kapal ini telah bersedia membawa serta kita
tanpa memungut upah, tetapi mengapa engkau
sengaja melubangi kapal mereka? Apakah
engkau lakukan itu dengan maksud
menenggelamkan penumpangnya?’
Khidhir menjawab,
ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻟَﻢْ ﺃَﻗُﻞْ ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻦ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴﻊَ ﻣَﻌِﻲَ ﺻَﺒْﺮﺍً . ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ
ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲ ﺑِﻤَﺎ ﻧَﺴِﻴﺖُ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺮْﻫِﻘْﻨِﻲ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻱ ﻋُﺴْﺮﺍً
‘Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya
kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku.’
Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukum
aku karena kelupaanku.’’ (QS. Al-Kahfi: 72–
73)
Itulah sesuatu yang pertama kali dilupakan
Musa, kemudian keduanya melanjutkan
perjalanan. Keduanya bertemu dengan seorang
anak laki-laki sedang bermain bersama kawan-
kawannya. Tiba-tiba Khidhir menarik rambut
anak itu dan membunuhnya.
Melihat kejadian aneh ini, Musa bertanya,
ﺃَﻗَﺘَﻠْﺖَ ﻧَﻔْﺴﺎً ﺯَﻛِﻴَّﺔً ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻧَﻔْﺲٍ ﻟَّﻘَﺪْ ﺟِﺌْﺖَ ﺷَﻴْﺌﺎً ﻧُّﻜْﺮﺍً
‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih,
bukan karena dia membunuh orang lain?
Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu
yang mungkar.’ (QS. Al-Kahfi: 74)
Khidhir menjawab,
ﺃَﻟَﻢْ ﺃَﻗُﻞ ﻟَّﻚَ ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻦ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻴﻊَ ﻣَﻌِﻲ ﺻَﺒْﺮﺍً
‘Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa
sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar
bersamaku? ’ (QS. Al-Kahfi: 75)
Maka, keduanya berjalan. Hingga tatkala
keduanya sampai kepada penduduk suatu
negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk
negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau
menjamu mereka. Kemudian keduanya
mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah
yang hampir roboh.
ﻓَﺄَﻗَﺎﻣَﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻮْ ﺷِﺌْﺖَ ﻟَﺎﺗَّﺨَﺬْﺕَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺟْﺮ . ﻗَﺎﻝَ ﻫَﺬَﺍ ﻓِﺮَﺍﻕُ
ﺑَﻴْﻨِﻲ ﻭَﺑَﻴْﻨِﻚَ ﺳَﺄُﻧَﺒِّﺌُﻚَ ﺑِﺘَﺄْﻭِﻳﻞِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻄِﻊ ﻋَّﻠَﻴْﻪِ ﺻَﺒْﺮﺍً
‘Khidhir berkata bahwa, melalui tangannya, dia
menegakkan dinding itu. Musa berkata, ‘Jikalau
kamu mau, niscaya kamu mengambil upah
untuk itu.’ Khidhir berkata, ‘Inilah perpisahan
antara aku dengan kamu.’ ‘ (QS. Al-Kahfi: 77–
78).
Semoga Allah menganugerahkan rahmat kepada
Musa ‘alaihis salam . Tentu, kita sangat
menginginkan sekiranya Musa dapat bersabar
sehingga kita memperoleh cerita tentang urusan
keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 122 dan
Muslim no. 2380)
Adab bergaul
Jika engkau mempunyai kedua orang tua, maka
adab seorang anak kepada kedua orang tuanya
adalah memerhatikan ucapan mereka, berdiri
manakala mereka berdiri, mengerjakan perintah
mereka, tidak berjalan di depan mereka, tidak
meninggikan suara di atas suara mereka,
menyambut panggilan mereka, mencari rida me
reka, merendahkan diri di hadapan mereka,
tidak mengungkit-ngungkit amal bakti yang
telah dilakukan kepada mereka, tidak menatap
mereka secara tajam, tidak bermuka masam
kepada mereka, dan tidak pergi kecuali dengan
izin mereka.
Ketahuilah! Setelah itu manusia terbagi atas
tiga kelompok: sebagai teman, sebagai kenalan,
atau sebagai orang awam (orang bodoh).
1. Bergaul Dengan Orang Awam (Bodoh)
Jika engkau kebetulan bertemu dengan orang
bodoh, maka hendaknya engkau tidak ikut serta
dalam pembicaraan mereka, mengabaikan
ucapan-ucapan dusta mereka, tidak
memperhatikan ucapan-ucapan buruk mereka,
berusaha untuk tidak sering bertemu dan
butuh pada mereka, mengingatkan perbuatan
mungkar mereka secara lemah lembut, serta
memberikan nasihat manakala diharapkan bisa
mereka terima.
2. Bergaul dengan Saudara atau Teman
Sedangkan terhadap saudara dan teman, ada
dua tugas yang harus kau perhatikan:
Tugas pertama,
Terlebih dahulu engkau harus melihat kriteria
orang yang bisa dijadikan sahabat atau teman.
Jangan engkau bersahabat kecuali dengan orang
yang benar-benar layak dijadikan saudara atau
sahabat. Rasulullah Saw. bersabda,
"Seseorang bergantung pada agama teman
karibnya. Oleh karena itu, hendaknya kalian
memperhatikan siapa yang harus dijadikan
teman karib." Manakala engkau ingin mencari
teman yang bisa menyertaimu dalam belajar
serta bisa menemanimu dalam urusan agama
dan dunia, perhatikan lima hal berikut ini:
1. Akal . Tidak ada untungnya bergaul dengan
orang bodoh karena bisa berakhir kepada
kemalangan dan terputusnya hubungan.
Paling-paling mereka hanya akan memberikan
mudarat kepadamu serta ingin
memanfaatkanmu. Musuh yang pandai lebih
baik daripada teman yang bodoh. Imam Ali
r.a. berkata:
Janganlah engkau bergaul dengan orang
bodoh
Hendaknya kau betul-betul menghindarinya
Betapa banyak orang bodoh yang
menghancurkan
si penyabar ketika ia menginginkannya
Seseorang diukur dengan orang lain
di mana orang itu mengikutinya
Seperti sepasang sendal yang sama
di mana sendal itu menyerupainya
Sesuatu dan yang lain
mempunyai ukuran dan kemiripan
Hati yang satu menjadi petunjuk
bagi hati yang lain ketika berjumpa
2. Akhlak Yang Baik. Jangan engkau
bersahabat dengan orang yang buruk
akhlaknya. Yaitu, orang yang tak bisa menahan
diri ketika muncul amarah dan syahwat.
Alqarnah al-'Atharidi rahimahullah, dalam
wasiatnya kepada putranya manakala akan
wafat, telah mengungkapkan hal itu, “Wahai
anakku, jika engkau ingin bergaul dengan
manusia, bergaullah dengan orang yang jika
kau layani dia menjagarnu, jika kau temani dia
membaguskanmu. Bersahabatlah dengan orang
yang jika engkau ulurkan tanganmu untuk
kebaikan ia juga mengulurkannya, jika melihat
kebaikanmu ia mengingatnya, dan jika melihat
keburukanmu ia meluruskannya.
Bersahabatlah dengan orang yang jika engkau
mengungkapkan sesuatu, ia membenarkan
ucapanmu itu, jika engkau mengusahakan
sesuatu ia membantu dan menolongmu, serta
jika kalian berselisih dalam sebuah persoalan
ia mengalah padamu." Imam Ali r.a.
mengungkapkan syair rajaznya:
Sesungguhnya saudaramu adalah yang ada
bersamamu,
yang membiarkan dirinya menderita demi
kepentinganmu,
Dan yang jika bingung dia menjelaskannya
padamu
Dia rusak integritas dirinya untuk
mengumpulkan dirimu
3. Baik Dan Saleh . Jangan engkau bersahabat
dengan orang fasik yang selalu berbuat
maksiat besar. Karena, orang yang takut
kepada Allah tak akan terus berbuat maksiat
besar. Engkau tak akan aman dari bencana
yang ditimbulkan oleh orang yang berbuat
maksiat besar itu. Ia akan selalu berubah-
rubah sikap sesuai dengan kondisi dan
kepentingan. Allah Swt. berfirman, "Jangan
engkau ikuti orang yang Kami lalaikan hatinya
dari berzikir kepada Kami dan mengikuti hawa
nafsunya. Orang itu telah betul-betul
melampaui batas" (Q.S. al-Kahfi: 28).
Hindarilah bergaul dengan orang fasik. Sebab,
selalu menyaksikan kefasikan dan maksiat
akan membuatmu toleran dan meremehkan
maksiat. Karena itu, hatimu akan memandang
remeh masalah gibah. Seandainya mereka
melihat cincin emas atau pakaian sutera yang
dipergunakan seorang fakih, mereka akan
sangat mengingkarinya. Padahal, gibah lebih
hebat daripada itu.
4. Tidak Tamak terhadap Dunia . Bergaul
dengan orang yang tamak terhadap dunia
merupakan racun yang membunuh. Sebab,
kecenderungan untuk meniru sudah menjadi
hukum alam. Sebuah tabiat bisa mencuri tabiat
lainnya tanpa disadari. Dengan demikian,
berteman dengan orang tamak bisa membuatmu
lebih tamak, sebaliknya berteman dengan orang
zuhud bisa membuatmu lebih zuhud.
Adab bersahabat
Ketahuilah bahwa 'sahabatmu' yang tak pernah
berpisah denganmu entah dalam keadaan diam,
bepergian, tidur, diam, bahkan dalam hidup
dan matimu adalah Tuhan Penciptamu.
Selama engkau mengingatNya, niscaya Dia
menjadi 'Teman dudukmu'. Sebab, Allah Swt.
berkata, "Aku adalah teman duduk bagi orang
yang berzikir pada-Ku." Selama hatimu sedih
karena tak mampu menunaikan kewajiban
agamamu, maka Dia senantiasa menyertaimu.
Sebab Allah Swt. berkata, "Aku berada
bersama mereka yang hatinya sedih karena-
Ku." Apabila engkau betul-betul mengenali-
Nya, niscaya engkau akan menjadikan-Nya
sebagai 'sahabat' dan niscaya engkau akan
meninggalkan yang lainnya. Jika engkau tak
mampu melaksanakan hal itu setiap waktu,
maka engkau harus menyediakan waktu di
malam dan di siang hari untuk kau pergunakan
berkhalwat bersama Tuhan dan merasakan
kenikmatan bermunajat kepada-Nya. Berkenaan
dengan hal itu, engkau harus mengetahui adab-
adab menjalin hubungan dengan Tuhan. Yaitu,
menundukkan kepala, menjaga pandangan
mata, mengkonsentrasikan pikiran, senantiasa
diam, menenangkan anggota badan, segera
mengerjakan perintah, meninggalkan larangan,
tidak menolak takdir, senantiasa berzikir dan
berpikir, mengutamakan yang hak atas yang
batil, putus asa dari makhluk, tunduk dengan
perasaan hormat, risau diliputi oleh rasa malu,
tenang dalam berusaha karena yakin atas
jaminan-Nya, bertawakal kepada karunia Allah
Swt. Semua ini harus menjadi karaktermu
sepanjang siang dan malam. Itulah adab
menjalin hubungan dengan 'Teman yang tak
pernah berpisah denganmu.' Adapun semua
makhluk, dalam waktu tertentu akan berpisah
denganmu.
Adab Seorang Alim (Guru)
Jika engkau seorang alim, maka adab yang kau
harus kau perhatikan adalah sabar, selalu
santun, duduk dengan wibawa disertai kepala
yang tunduk, tidak takabur terhadap semua
hamba kecuali pada mereka yang lalim dengan
tujuan menghapus kelalimannya, bersikap
tawadu dalam setiap majelis dan pertemuan,
tidak bersenda gurau, menyayangi murid,
berhati-hati terhadap orang yang sombong,
memperbaiki negeri dengan cara yang baik dan
tidak marah, tidak malu untuk mengaku tidak
tahu, memperhatikan pertanyaan si penanya
dan berusaha memahami pertanyaannya, mau
menerima hujah dan mengikuti yang benar
dengan kembali kepadanya manakala ia salah,
melarang murid mempelajari ilmu yang
berbahaya dan mengingatkannya agar tidak
menuntut ilmu untuk selain rida Allah Swt,
melarang murid sibuk dengan hal-hal yang
bersifat fardu kifayah sebelum menyelesaikan
yang fardu ain (yang termasuk fardu ain
adalah memperbaiki yang lahir dan batinnya
dengan takwa) serta membekali dirinya terlebih
dahulu dengan sikap takwa tersebut agar sang
murid bisa mencontoh amalnya, kemudian
mengambil manfaat dari ucapannya.
Adab seorang murid
Allah SWT berfirman dalam al-Qur'an surat
al-Kahfi ayat 60-82 yang tafsir maknanya
sebagai berikut ;
60. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada
muridnya[*]: "Aku tidak akan berhenti
(berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua
buah lautan; atau aku akan berjalan sampai
bertahun-tahun".
61. Maka tatkala mereka sampai ke Pertemuan
dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya,
lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke
laut itu.
62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh,
berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah
kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah
merasa letih karena perjalanan kita ini".
63. Muridnya menjawab: "Tahukah kamu
tatkala kita mecari tempat berlindung di batu
tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa
(menceritakan tentang) ikan itu dan tidak
adalah yang melupakan aku untuk
menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu
mengambil jalannya ke laut dengan cara yang
aneh sekali".
64. Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita
cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak
mereka semula.
65. lalu mereka bertemu dengan seorang
hamba di antara hamba-hamba Kami, yang
telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi
Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya
ilmu dari sisi Kami[**].
66. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah
aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan
kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu
yang telah diajarkan kepadamu?"
67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama
aku.
68. dan bagaimana kamu dapat sabar atas
sesuatu, yang kamu belum mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan
mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan
aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu
urusanpun".
70. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka
janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang
sesuatu apapun, sampai aku sendiri
menerangkannya kepadamu".
71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala
keduanya menaiki perahu lalu Khidhr
melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu
melobangi perahu itu akibatnya kamu
menenggelamkan penumpangnya?"
Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu
kesalahan yang besar.
72. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah aku telah
berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sabar bersama dengan aku".
73. Musa berkata: "Janganlah kamu
menghukum aku karena kelupaanku dan
janganlah kamu membebani aku dengan
sesuatu kesulitan dalam urusanku".
74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala
keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka
Khidhr membunuhnya. Musa berkata:
"Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih,
bukan karena Dia membunuh orang lain?
Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu
yang mungkar".
75. Khidhr berkata: "Bukankah sudah
kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
76. Musa berkata: "Jika aku bertanya
kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini,
Maka janganlah kamu memperbolehkan aku
menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah
cukup memberikan uzur padaku".
77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala
keduanya sampai kepada penduduk suatu
negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk
negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau
menjamu mereka, kemudian keduanya
mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah
yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan
dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau,
niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
78. Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara
aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan
kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang
kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan
orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan
aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena
di hadapan mereka ada seorang raja yang
merampas tiap-tiap bahtera.
80. dan Adapun anak muda itu, Maka
keduanya adalah orang-orang mukmin, dan
Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong
kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan
kekafiran.
81. dan Kami menghendaki, supaya Tuhan
mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain
yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu
dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu
bapaknya).
82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan
dua orang anak yatim di kota itu, dan di
bawahnya ada harta benda simpanan bagi
mereka berdua, sedang Ayahnya adalah
seorang yang saleh, Maka Tuhanmu
menghendaki agar supaya mereka sampai
kepada kedewasaannya dan mengeluarkan
simpanannya itu, sebagai rahmat dari
Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu
menurut kemauanku sendiri. demikian itu
adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu
tidak dapat sabar terhadapnya". (QS al-Kahfi
ayat 60-82)
[*] Menurut ahli tafsir, murid Nabi Musa a.s.
itu ialah Yusya 'bin Nun.
[**] Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah
Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di
sini ialah wahyu dan kenabian. sedang yang
dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang
ghaib seperti yang akan diterangkan dengan
ayat-ayat berikut.
Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah bersabda,
“Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan
Bani Israil, kemudian ada seseorang yang
bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai
itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’
Dengan ucapan itu, Allah mencelanya, sebab
Musa tidak mengembalikan pengetahuan suatu
ilmu kepada Allah. Kemudian Allah
mewahyukan kepada Musa, ‘Sesungguhnya
Aku memiliki seorang hamba yang berada di
pertemuan antara laut Persia dan Romawi,
hamba-Ku itu lebih pandai daripada kamu!’
Musa bertanya, ‘Ya Rabbi, bagaimana caranya
agar aku bisa bertemu dengannya?’ Maka
dijawab, “Bawalah seekor ikan yang kamu
masukkan ke dalam suatu tempat, di mana
ikan itu menghilang maka di situlah hamba-Ku
itu berada!’
Kemudian Musa pun pergi. Musa pergi
bersama seorang pelayan bernama Yusya’ bin
Nun. Keduanya membawa ikan tersebut di
dalam suatu tempat hingga keduanya tiba di
sebuah batu besar. Mereka membaringkan
tubuhnya sejenak lalu tertidur. Tiba-tiba ikan
tersebut menghilang dari tempat tersebut. Ikan
itu melompat mengambil jalannya ke laut.
Musa dan pelayannya merasa aneh sekali.
Lalu keduanya terus menyusuri dari siang
hingga malam hari. Pada pagi harinya, Musa
berkata kepada pelayannya,
ﺁﺗِﻨَﺎ ﻏَﺪَﺍﺀﻧَﺎ ﻟَﻘَﺪْ ﻟَﻘِﻴﻨَﺎ ﻣِﻦ ﺳَﻔَﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻧَﺼَﺒﺎً
‘Bawalah ke mari makanan kita. Sesungguhnya
kita telah merasa letih karena perjalanan kita
ini.’ (QS. Al-Kahfi: 62)
Seputar maksiat III
Kami telah menyebutkan hal-hal yang terkait
dengan masalah syubhat, halal, dan haram
dalam satu kajian tersendiri pada kitab Ihya
Ulumiddin. Pelajarilah kitab tersebut karena
mengetahui yang halal dan haram wajib
hukumnya bagi setiap muslim sebagaimana
salat lima waktu.
Adapun kemaluan, peliharalah ia dari semua
yang diharamkan Allah. Jadilah sebagaimana
yang disebutkan Allah Swt, "Mereka yang
menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau sahaya yang mereka
miliki, maka mereka tak dapat dicela" (Q.S. al-
Mukminun: 5-6). Engkau baru bisa menjaga
kemaluan dengan menjaga pandangan mata,
menjaga hati untuk tidak merenungkannya,
serta menjaga perut dari yang syubhat dan
dari rasa kenyang. Karena, semua itu
merupakan penggerak dan tempat tumbuhnya
syahwat.
Kedua tangan, harus engkau pelihara agar ia
tidak kau jadikan alat untuk memukul seorang
rnuslim, untuk mendapat harta haram, untuk
menyakiti sesama makhluk, untuk berkhianat
terhadap amanat dan titipan, serta untuk
menuliskan sesuatu yang tak boleh diucapkan
karena pena merupakan lidah pula. Oleh karena
itu,peliharalah pena tersebut sebagaimana
engkau menjaga lidah.
Janganlah engkau pergunakan kedua kaki untuk
menuju pintu seorang penguasa lalim. Sebab,
berjalan menuju para penguasa lalim tanpa ada
keperluan merupakan maksiat yang besar
karena berarti ia bersikap tawadu dan
memuliakan mereka yang telah berbuat lalirn.
Allah Swt. telah memerintahkan kita untuk ber
paling dari mereka dalam firman-Nya yang
berbunyi, "Janganlah kalian condong kepada
mereka yang telah berbuat lalim, niscaya kalian
tersentuh api neraka dan kalian tidak
mempunyai penolong selain Allah. Lalu kalian
tidak ditolong" (QS. Hud: 113). Jika engkau
pergi menemui mereka untuk mendapat harta,
berarti engkau berusaha meraih sesuatu yang
haram. Nabi Saw. bersabda, "Siapa yang
bersikap merendah kepada orang kaya,
sepertiga agamanya telah hilang." ini terhadap
orang kaya yang saleh, lalu bagaimana
merendah terhadap orang kaya yang lalim?
Ringkasnya, ketika engkau bergerak dan diam
dengan anggota badanmu, itu semua
merupakan nikmat Allah Swt. Maka dari itu,
janganlah engkau menggerakkan anggota
badanmu dalam rangka maksiat kepada Allah.
Tetapi pergunakanlah untuk taat kepada-Nya.
Ketahuilah, jika engkau tak patuh maka
bencananya akan kembali padamu, sementara
jika kamu mau menanam, maka buahnya akan
menjadi milikmu. Adapun Allah, Dia tak butuh
padamu dan tak butuh pada amal per
buatanmu. Setiap jiwa tergantung pada amal
perbuatannya. Jangan sampai engkau berkata,
"Allah Maha Pemurah Dan Maha Penyayang.
Dia Maha Mengampuni dosa mereka yang
bermaksiat." Ini merupakan ungkapan yang
benar tapi ditujukan pada sesuatu yang batil.
Orang yang mengucapkannya termasuk dungu
seperti kata Rasul Saw., "Orang yang cerdik
adalah yang bisa menundukkan hawa nafsunya
dan beramal untuk hari sesudah mati.
Sedangkan orang yang dungu adalah yang
mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan
kepada Allah”.
Ketahuilah bahwa ucapanmu itu seperti ucapan
seseorang yang ingin menjadi fakih dalam ilmu
agama tanpa mau belajar, tapi justru sibuk
dengan sesuatu yang batil lalu berkata, "Allah
Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dia
Maha berkuasa untuk mencurahkan ke dalam
hatiku berbagai ilmu yang Dia tanamkan di hati
para nabi dan wali-Nya tanpa usaha dan
belajar." Itu seperti ucapan orang yang
menginginkan harta, tapi tak mau menanam,
berdagang, atau berusaha kemudian berujar, “
Allah Maha Pemurah. Dia memiliki kekayaan
langit dan bumi. Dia Maha Berkuasa untuk
memberikan kepadaku sebagian dari khazanah
kekayaan-Nya sehingga aku tak perlu bekerja.
Hal itu telah Dia lakukan kepada para hamba-
Nya." Jika engkau mendengar ucapan kedua
orang di atas, engkau pasti menganggap kedua
orang itu bodoh dan engkau pasti mengejeknya
walaupun sifat pemurah dan kuasa Allah yang
ia sebutkan benar. Demikian pula, Orang-orang
yang alim dalam bidang-bidang agama akan
menertawakanmu jika engkau menuntut
ampunan tanpa ada usaha. Allah Swt.
berfirman, "Bagi manusia apa yang ia
usahakan" (Q.S. an-Najm: 39), "Kaliaan
dibalas sesuai dengan amal perbuatan
kalian" (Q.S. ath-Thar: 16), "Orang-orang
abrar (berbuat baik) berada dalam kenikmatan
sedangkan mereka yang selalu berbuat dosa
berada di neraka Jahim" (Q.S. al-Infithar:
13-14).
Apabila engkau tetap menuntut ilmu dan
mencari harta dengan bersandar pada
kemurahan-Nya serta terus membekali diri
untuk akhirat, maka Tuhan Pemelihara dunia
dan akhirat adalah satu. Dia Maha Pemurah
dan Penyayang baik di dunia maupun di
akhirat. Ketaatanmu tidak membuat-Nya
bertambah pemurah. Hanya saja, kemurahan-
Nya adalah Dia memudahkan jalan menuju
negeri kenikmatan yang abadi dan kekal dengan
senantisa sabar dalam meninggalkan syahwat
selama beberapa saat. Ini merupakan puncak
kemurahan. Jangan engkau rusak dirimu
dengan ajaran jahat para pengangguran.
Ikutilah para nabi dan orang-orang saleh.
Jangan engkau terlalu berharap bisa memanen
sesuatu yang tak kau tanam. Sedangkan orang
yang berpuasa, salat, berjihad, serta bertakwa,
semoga ia diampuni.
Ini adalah beberapa hal yang patut dipelihara
oleh anggota badanmu. Engkau juga harus
membersihkan hatimu karena ia merupakan
bentuk ketakwaan secara batin. Hati adalah
segumpal daging yang jika baik maka seluruh
badan menjadi baik. Tapi jika segumpal daging
itu rusak, maka seluruh badan menjadi rusak.
Berusahalah untuk memperbaiki hatimu itu
agar seluruh anggota badanmu juga baik. Hati
menjadi baik dengan selalu merasakan
kehadiran Allah.
Seputar maksiat hati II
Allah mengibaratkanmu dengan pemakan
bangkai manusia. Oleh karena itu, alangkah
baiknya jika engkau menghindari perbuatan
tersebut. Jika engkau mau merenung, engkau
tak akan menggunjing sesama muslim.
Lihatlah pada dirimu, apakah dirimu itu
mempunyai aib, baik yang tampak secara
lahiriah maupun yang tersembunyi? Apakah
engkau sudah meninggalkan maksiat, baik
secara rahasia maupun terang-terangan? Jika
engkau menyadari hal itu, ketahuilah bahwa
ketidakberdayaan seseorang untuk menghindari
apa yang kau nisbatkan padanya sama seperti
ketidakberdayaanmu. Sebagaimana engkau
tidak suka jika kejelekanmu disebutkan, ia juga
demikian. Apabila engkau mau menutupi
aibnya, niscaya Allah akan menutupi aibmu.
Tapi apabila engkau membuka aibnya, Allah
akan jadikan lidah-lidah yang tajam mencabik-
cabik kehormatanmu di dunia, lalu Allah akan
membuka aibmu di akhirat di hadapan para
makhluk-Nya pada hari kiamat. Apabila engkau
melihat lahir dan batinmu lalu engkau tidak
menemukan aib dan kekurangan, baik dari
aspek agama maupun dunia, maka ketahuilah
bahwa ketidaktahuanmu terhadap aibmu itu
merupakan kedunguan yang sangat buruk. Tak
ada aib yang lebih hebat daripada kedunguan
tersebut. Sebab, jika Allah menginginkan ke
baikan bagimu, niscaya Dia akan
memperlihatkan aib-aibmu. Tapi, apabila
engkau melihat dirimu dengan pandangan rida,
hal itu merupakan puncak kebodohan.
Selanjutnya, jika sangkaanmu memang benar,
bersyukurlah pada Allah Swt. Jangan malah
engkau rusak dengan mencela dan
menghancurkan kehormatan mereka. Sebab, hal
itu merupakan aib yang paling besar.
Keempat: mendebat orang. Karena, dengan
mendebat, kita telah menyakiti, menganggap
bodoh, dan mencela orang yang kita debat.
Selain itu, kita menjadi berbangga diri serta
merasa lebih pandai dan berilmu. Ia juga
menghancurkan kehidupan. Manakala engkau
mendebat orang bodoh, ia akan menyakitimu.
Sedangkan manakala engkau mendebat orang
pandai, ia akan membenci dan dengki padamu.
Nabi Saw. bersabda, "Siapa yang
meninggalkan perdebatan sedang ia dalam
keadaan salah, maka Allah akan membangun
untuknya sebuah rumah di tepi surga. Dan
siapa yang meninggalkan perdebatan padahal
dia dalam posisi yang benar Allah akan
membangun untuknya sebuah rumah di surga
yang paling tinggi."
Jangan sampai engkau tertipu oleh setan yang
berkata padamu, "Tampakkan yang benar,
jangan bersikap lemah!" Sebab, setan selalu
akan menjerumuskan orang dungu kepada
keburukan dalam bentuk kebaikan. Jangan
sampai engkau menjadi bahan tertawaan setan
sehingga dia mengejekmu. Menampakkan
kebenaran kepada mereka yang mau
menerimanya adalah suatu kebaikan. Tetapi
hal itu harus dilakukan dengan cara
memberikan nasihat secara rahasia bukan
dengan cara mendebat. Sebuah nasihat
memiliki karakter dan bentuk tersendiri. Harus
dilakukan dengan cara yang baik. Jika tidak, ia
hanya akan mencemarkan aib orang. Sehingga
kebukannya lebih banyak daripada kebaikan
yang ditimhulkannya. Orang yang sering
bergaul dengan para fakih zaman ini memiliki
karakter suka berdebat sehingga ia sulit diam.
Sebab, para ulama su' tersebut mengatakan
padanya bahwa berdebat merupakan sesuatu
yang mulia dan mampu berdiskusi merupakan
satu kebanggaan. Oleh karena itu, hindarilah
mereka sebagaimana engkau menghindar dari
singa. Ketahuilah, perdebatan merupakan sebab
datangnya murka Allah dan murka makhluk-
Nya.
Kelima: mengklaim diri bersih dari dosa. Allah
Swt. berfirman, "Jangan kalian merasa suci.
Dia yang lebih mengetahui siapa yang
bertakwa" (Q.S. an-Najm: 32). Sebagian ahli
hikmat ditanya, "Apa itu jujur yang buruk?"
Mereka menjawab, "Seseorang yang memuji
dirinya sendiri." Janganlah engkau terbiasa
demikian. Ketahuilah bahwa hal itu akan
mengurangi kehormatanmu di mata manusia
dan mengakibatkan datangnya murka Allah
Swt. Jika engkau ingin membuktikan bahwa
membanggakan diri tak membuat manusia
bertambah hormat padamu, lihatlah pada para
kerabatmu manakala mereka membanggakan
kemuliaan, kedudukan, dan harta mereka
sendiri, bagaimana hatimu membenci mereka
dan muak atas tabiat mereka. Lalu engkau
mencela mereka di belakang mereka. Jadi
sadarlah bahwa mereka juga bersikap demikian
ketika engkau mulai membanggakan diri. Di
dalam hatinya, mereka mencelamu dan hal itu
akan mereka ungkapkan ketika mereka tidak ber
ada di hadapanmu.
Keenam: mencela. Jangan sampai engkau
mencela ciptaan Allah Swt, baik itu hewan,
makanan, ataupun manusia. Janganlah engkau
dengan mudah memastikan seseorang yang
menghadap kiblat sebagai kafir, atau munafik.
Karena, yang mengetahui semua rahasia
hanyalah Allah Swt. Oleh karena itu, jangan
mencampuri urusan antara hamba dan Allah
Swt. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat
engkau tak akan ditanya, "Mengapa engkau
tidak mencela si fulan? Mengapa engkau men
diamkannya?" Bahkan, walaupun engkau tidak
mencela iblis sepanjang hidupmu dan engkau
melupakannya, engkau tetap tak akan ditanya
tentang hal itu serta tak akan dituntut
karenanya pada hari kiamat. Tapi, jika engkau
mencela salah satu makhluk Allah Swt. baru
engkau akan dituntut. Jangan engkau mencerca
sesuatu pun dari makhluk Allah Swt. Nabi
Saw. sendiri sama sekali tidak pernah mencela
makanan yang tidak enak. Jika beliau berselera
dengan sesuatu, beliau memakannya. Jika
tidak, beliau tinggalkan.
Ketujuh: mendoakan keburukan bagi orang lain.
Peliharalah lidahmu untuk tidak mendoakan
keburukan bagi suatu makhluk Allah Swt. Jika
ia telah berbuat aniaya padamu, maka serahkan
urusannya pada Allah Swt. Dalam sebuah
hadis disebutkan, "Seorang yang dianiaya
mendoakan keburukan bagi yang menganiaya
dirinya sehingga menjadi imbang, kemudian
yang menganiaya masih memiliki satu
kelebihan yang bisa ia tuntut kepadanya pada
hari kiamat." Sebagian orang terus mendoakan
keburukan bagi Hajjaj sehingga sebagian salaf
berkata, "Allah menghukum orang-orang yang
telah mencela Hajjaj untuknya, sebagaimana
Allah menghukum Hajjaj untuk orang yang
telah ia aniaya."
Kedelapan: bercanda, mengejek, dan menghina
orang. Peliharalah lidahmu baik dalam kondisi
serius maupun canda karena ia bisa
menjatuhkan kehormatan, menurunkan wibawa,
membuat risau, dan menyakiti hati. Ia juga
merupakan pangkal timbulnya murka dan
marah serta dapat menanamkan benih-benih
kedengkian di dalam hati. Oleh karena itu,
jangan engkau bercanda dengan seseorang dan
jika ada yang bercanda denganmu,jangan kau
balas. Berpalinglah sampai mereka mem
bicarakan hal lain.
Semua itu merupakan cacat yang terdapat pada
lidah. Yang perlu kau lakukan adalah
mengasingkan diri atau senantiasa diam kecuali
dalam keadaan darurat. diceritakan bahwa Abu
Bakar ash-Shiddiq r.a. meletakan sebuah batu
di mulutnya agar tidak berbicara keuali saat
perlu saja. Beliau menunjuk lidahnya lalu
berkata, "Inilah yang menjadi segala sumber
bagiku. kekanglah ia sekuat tenagamu, karena
ia merupakan faktor utama yang membuatmu
celaka di dunia dan akhirat."
Adapun perut, maka jangan kau isi ia dengan
barang haram atau syubhat. Berusahalah
untuk mencari yang halal. Jika engkau telah
mendapatkan yang halal, berusahalah
mengkonsumsinya tidak sampai kenyang.
Sebab, perut yang kenyang bisa membekukan
hati, merusak akal, menghilangkan hafalan,
memberatkan anggota badan untuk beribadah
dan menuntut ilmu, memperkuat syahwat,
serta membantu tentara setan. Jika kenyang
dari makanan halal merupakan awal segala
keburukan, bagaimana jika dari yang haram?
Mencari sesuatu yang halal merupakan
kewajiban bagi setiap muslim. Beribadah dan
menuntut ilmu yang disertai mengkonsumsi
makanan haram seperti membangun di atas
kotoran hewan. Apabila engkau merasa cukup
selama setahun memakai baju yang kasar, lalu
selama sehari semalam memakan dua potong
roti garing, lalu engkau tidak menikmati apa
yang lezat bagi manusia, maka engkau tak
butuh pada yang lain. Barang yang halal
sangat banyak. Engkau tidak perlu meyakinkan
dirimu dengan menyelidiki hal-hal yang
tersembunyi. Tapi engkau harus menjaga diri
dari yang sudah jelas kau ketahui bahwa itu
adalah haram. Atau setelah dilihat dari ciri-ciri
yang terkait dengan harta tersebut, engkau bisa
menduga bahwa itu adalah haram. Apayang
sudah diketahui tampak jelas secara lahir,
sementara yang bersifat dugaan tampak
dengan adanya ciriciri. Misalnya harta
penguasa dan para pekerjanya, harta orang
yang tak bekerja kecuali dengan cara menjual
khamar, riba, judi, dan sebagainya. Jika
engkau tahu bahwa sebagian besar hartanya
adalah haram, maka apa yang kau terima
darinya, walaupun mungkin halal, ia termasuk
haram karena adanya dugaan yang kuat tadi.
Yang jelas-jelas haram adalah memakan harta
wakaf tanpa izin atau syarat dari si pemberi
wakaf. Siapa yang melakukan maksiat,
kesaksiannya tertolak, dan wakaf atau apa pun
yang ia terima atas nama kesufian adalah
haram.
Kami telah menyebutkan hal-hal yang terkait
dengan masalah syubhat, halal, dan haram
dalam satu kajian tersendiri pada kitab Ihya
Ulumiddin. Pelajarilah kitab tersebut karena
mengetahui yang halal dan haram wajib
hukumnya bagi setiap muslim sebagaimana
salat lima waktu.
Adapun kemaluan,
Seputar maksiat hati
Seputar Maksiat Hati
Ketahuilah, bahwa agama Islam terdiri atas
dua bagian: meninggalkan apa yang dilarang
dan melakukan amal ketaatan. Meninggalkan
apa yang dilarang jauh lebih sulit karena
melakukan amal ketaatan dapat dilakukan
setiap orang, sedangkan meninggalkan syahwat
hanya bisa diwujudkan oleh mereka yang
tergolong shiddiqun . Oleh karena itu,
Rasulullah SAW. bersabda, "Orang yang
berhijrah adalah yang meninggalkan keburukan,
sedangkan orang yang berjihad adalah yang
berjuang melawan hawa nafsunya." Ketahuilah
bahwa ketika engkau bermaksiat sesungguhnya
engkau melakukan maksiat tersebut dengan
anggota badanmu padahal ia merupakan nikmat
dan amanat Allah yang diberikan kepadamu.
Mempergunakan nikmat Allah dalam rangkat
bermaksiat kepada-Nya adalah puncak
kekufuran. Dan berkhianat terhadap amanat
yang dititipkan Allah kepadamu betul-betul
merupakan perbuatan yang melampaui batas.
Anggota badanmu adalah rakyat atau
gembalaanmu, maka perhatikan dengan baik
bagaimana kamu menggembalakan mereka.
Masing-masing kalian adalah pemimpin dan
setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang
dipimpinnya. Sadarlah bahwa semua anggota
badanmu akan menjadi saksi atasmu pada hari
kiamat dengan lidah yang fasih. Ia akan
menyingkap rahasiamu di hadapan semua
makhluk. Allah Swt. berfirman, "Pada hari
dimana lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi
saksi atas perbuatan yang kalian
lakukan" (Q.S. an-Nur: 24) Allah Swt
berfirman, "Pada hari ini, Kami tutup mulut
mereka sedangkan tangan mereka berbicara
pada Kami dan kaki mereka menjadi saksi atas
apa yang mereka kerjakan" (Q.S. Yasin: 65).
Oleh karena itu, peliharalah semua anggota
badanmu dari maksiat, khususnya tujuh
anggota badanmu karena neraka Jahannam
memiliki tujuh pintu. Masing-masing mereka
mempunyai bagian tersendiri. Yang masuk ke
dalam pintu-pintu neraka Jahannam itu adalah
mereka yang bermaksiat kepada Allah Swt.
dengan tujuh anggota badan tersebut, yaitu
mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan,
dan kaki.
Mata diciptakan agar bisa memberi petunjuk
padamu di waktu gelap, agar bisa kau
pergunakan pada saat diperlukan, agar
dengannya engkau melihat semua keajaiban
langit dan bumi, dan agar engkau bisa
mengambil pelajaran dari tanda-tanda
kekuasaan-Nya. Maka dari itu, peliharalah
matamu itu dari empat hal: melihat yang
bukan mahram-nya, melihat gambar bagus
dengar syahwat, melihat seorang muslim
dengan pandangan meremehkan, serta melihat
aib seorang muslim.
Adapun telinga, maka peliharalah ia agar tidak
mendengar bidah, gibah, perkataan keji, takut
pada kebatilan, atau kejelekan orang. Telinga
tersebut diciptakan untukmu agar engkau bisa
mendengar kalam Allah Swt, sunah Rasulullah
Saw, dan kata hikmah para wali serta agar
engkau bisa mempergunakannya untuk bisa
menggapai surga yang penuh kenikmatan, kekal
abadi di sisi Tuhan Penguasa alam semesta.
Jika engkau mempergunakan telinga tersebut
pada sesuatu yang dibenci ia akan menjadi
beban atau musuh bagimu. Begitu pula ia akan
berbalik arah dari yang seharusnya bisa
mengantarkanmu menuju kesuksesan, menjadi
mengantarkanmu menuju kehancuran. Ini
benar-benar merupakan kerugian. Jangan
engkau mengira bahwa dosanya hanya
dibebankan kepada si pembicara, sedangkan si
pendengar terbebas dari dosa. Karena, dalam
riwayat disebutkan, pendengar adalah sekutu
bagi yang berbicara. Ia adalah salah satu pihak
dari dua orang yang sedang bergibah
(bergunjing).
Adapun lidah, maka ia diciptakan agar
dengannya engkau bisa banyak berzikir kepada
Allah Swt, membaca Kitab Suci-Nya, memberi
petunjuk kepada makhluk Allah lainnya, serta
mengungkapkan kebutuhan agama dan duniamu
yang tersimpan dalam hati. Apabila engkau
mempergunakannya bukan pada tujuan yang
telah digariskan berarti engkau telah kufur
terhadap nikmat Allah Swt. Lidah merupakan
anggota badanmu yang paling dominan.
Tidaklah manusia diceburkan ke dalam api
neraka melainkan sebagai akibat dari apa yang
dilakukan oleh lidah. Maka peliharalah ia
dengan semua kekuatan yang kau miliki agar ia
tidak menjerumuskanmu ke dalam dasar
neraka. Sebuah riwayat menyebutkan,
"Sesungguhnya seseorang berbicara dengan
satu kata yang dengannya ia ingin membuat
teman-temanuya tertawa, namun karena itu ia
jatuh ke dasar neraka selama tujuh puluh
musim." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa
ada seorang syahid yang terbunuh di dalam
peperangan pada masa Rasulullah Saw. Lalu
seseorang berkata, "Selamat baginya yang
telah memperoleh surga!" Tapi Rasul Saw.
kemudian bersabda, "Dari mana engkau tahu?
Barangkali ia pernah mengatakan sesuatu yang
tak berguna dan bakhil terhadap sesuatu yang
takkan pernah mencukupinya." Maka,
peliharalah lidahmu dari delapan perkara:
Pertama: berdusta. Jagalah lidahmu agar
jangan sampai berdusta baik dalam keadaan
yang serius maupun bercanda. Jangan kau
biasakan dirimu berdusta dalam canda karena
hal itu akan mendorongmu untuk berdusta
dalam hal yang bersifat serius. Berdusta
termasuk induk dosa-dosa besar. Kemudian,
jika engkau dikenal mempunyai sifat seperti itu
(pendusta) maka orang tak akan percaya pada
perkataanmu dan untuk selanjutnya engkau
akan hina dan dipandang sebelah mata.
Apabila engkau ingin mengetahui busuknya
perkataan dusta yang ada pada dirimu, maka
lihatlah perkataan dusta yang dilakukan orang
lain serta bagaimana engkau membenci,
meremehkan, dan tidak menyukainya. La
kukanlah hal semacam itu pada semua aib
dirimu. Sesungguhnya engkau tidak
mengetahui aibmu lewat dirimu sendiri tapi
lewat orang lain. Apa yang kau benci dari orang
lain, pasti juga orang lain membencinya dari
mu. Oleh karenanya, jangan kau biarkan hal itu
ada pada dirimu.
Kedua: menyalahi janji. Engkau tak boleh
menjanjikan sesuatu tapi kemudian tidak
menepatinya. Hendaknya engkau berbuat baik
kepada manusia dalam bentuk tingkah laku,
bukan dalam bentuk perkataan. Jika engkau
terpaksa harus berjanji, jangan sampai kau
ingkari janji tersebut, kecuali jika engkau betul-
betul tak berdaya atau ada halangan darurat.
Sebab, menyalahi janji merupakan salah satu
dari tanda-tanda nifak dan buruknya akhlak.
Nabi Saw. bersabda, "Ada tiga hal, yang jika
ada di antara kalian yang jatuh ke dalamnya
maka ia termasuk munafik, walaupun ia puasa
dan salat. Yaitu, jika berbicara ia berdusta, jika
berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat
ia berkhianat."
Ketiga: gibah (menggunjing). Peliharalah
lidahmu dari menggunjing orang. Dalam Islam,
orang yang melakukan perbuatan tersebut lebih
hebat daripada tiga puluh orang pezina.
Begitulah yang terdapat dalam riwayat. Makna
gibah adalah membicarakan seseorang dengan
sesuatu yang ia benci jika ia mendengarnya.
Jika hal itu engkau lakukan, maka engkau
adalah orang yang telah melakukan gibah dan
aniaya, walaupun engkau berkata benar.
Hindarilah untuk menggunjing secara halus. Ya
itu, misalnya engkau nyatakan maksudmu
secara tidak Iangsung dengan berkata,
"Semoga Allah memperbaiki orang itu.
Sungguh tindakannya sangat buruk padaku.
Kita meminta kepada Allah agar Dia
memperbaiki kita dan dia." Di sini terkumpul
dua hal yang buruk, yaitu gibah (karena dari
pernyataanya kita bisa memahami hal itu) dan
merasa bahwa diri sendiri bersih tidak ber
salah. Tapi, jika engkau benar-benar
bermaksud mendoakannya, maka berdoalah
secara rahasia jika engkau merasa berduka
dengan perbuatannya. Dengan demikian,
jelaslah bahwa engkau tak ingin membuka
rahasia dan aibnya. Kalau engkau
menampakkan dukamu karena aibnya, berarti
engkau sedang membuka aibnya. Cukuplah
firman Allah Swt. ini menghalangimu dari
gibah, "Jangan sebagian kalian menggunjing
sebagian yang lain. Apakah salah seorang di
antara kalian senang memakan daging
saudaranya yang sudah mati. Pasti kalian
tidak menyukainya" (Q.S. al-Hujurat: 12).
Lanjutan menghindari maksiat II
Janganlah engkau pergunakan kedua kaki untuk
menuju pintu seorang penguasa lalim. Sebab,
berjalan menuju para penguasa lalim tanpa ada
keperluan merupakan maksiat yang besar
karena berarti ia bersikap tawadu dan
memuliakan mereka yang telah berbuat lalirn.
Allah Swt. telah memerintahkan kita untuk ber
paling dari mereka dalam firman-Nya yang
berbunyi, "Janganlah kalian condong kepada
mereka yang telah berbuat lalim, niscaya kalian
tersentuh api neraka dan kalian tidak
mempunyai penolong selain Allah. Lalu kalian
tidak ditolong" (QS. Hud: 113). Jika engkau
pergi menemui mereka untuk mendapat harta,
berarti engkau berusaha meraih sesuatu yang
haram. Nabi Saw. bersabda, "Siapa yang
bersikap merendah kepada orang kaya,
sepertiga agamanya telah hilang." ini terhadap
orang kaya yang saleh, lalu bagaimana
merendah terhadap orang kaya yang lalim?
Ringkasnya, ketika engkau bergerak dan diam
dengan anggota badanmu, itu semua
merupakan nikmat Allah Swt. Maka dari itu,
janganlah engkau menggerakkan anggota
badanmu dalam rangka maksiat kepada Allah.
Tetapi pergunakanlah untuk taat kepada-Nya.
Ketahuilah, jika engkau tak patuh maka
bencananya akan kembali padamu, sementara
jika kamu mau menanam, maka buahnya akan
menjadi milikmu. Adapun Allah, Dia tak butuh
padamu dan tak butuh pada amal per
buatanmu. Setiap jiwa tergantung pada amal
perbuatannya. Jangan sampai engkau berkata,
"Allah Maha Pemurah Dan Maha Penyayang.
Dia Maha Mengampuni dosa mereka yang
bermaksiat." Ini merupakan ungkapan yang
benar tapi ditujukan pada sesuatu yang batil.
Orang yang mengucapkannya termasuk dungu
seperti kata Rasul Saw., "Orang yang cerdik
adalah yang bisa menundukkan hawa nafsunya
dan beramal untuk hari sesudah mati.
Sedangkan orang yang dungu adalah yang
mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan
kepada Allah”.
Ketahuilah bahwa ucapanmu itu seperti ucapan
seseorang yang ingin menjadi fakih dalam ilmu
agama tanpa mau belajar, tapi justru sibuk
dengan sesuatu yang batil lalu berkata, "Allah
Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dia
Maha berkuasa untuk mencurahkan ke dalam
hatiku berbagai ilmu yang Dia tanamkan di hati
para nabi dan wali-Nya tanpa usaha dan
belajar." Itu seperti ucapan orang yang
menginginkan harta, tapi tak mau menanam,
berdagang, atau berusaha kemudian berujar, “
Allah Maha Pemurah. Dia memiliki kekayaan
langit dan bumi. Dia Maha Berkuasa untuk
memberikan kepadaku sebagian dari khazanah
kekayaan-Nya sehingga aku tak perlu bekerja.
Hal itu telah Dia lakukan kepada para hamba-
Nya." Jika engkau mendengar ucapan kedua
orang di atas, engkau pasti menganggap kedua
orang itu bodoh dan engkau pasti mengejeknya
walaupun sifat pemurah dan kuasa Allah yang
ia sebutkan benar. Demikian pula, Orang-orang
yang alim dalam bidang-bidang agama akan
menertawakanmu jika engkau menuntut
ampunan tanpa ada usaha. Allah Swt.
berfirman, "Bagi manusia apa yang ia
usahakan" (Q.S. an-Najm: 39), "Kaliaan
dibalas sesuai dengan amal perbuatan
kalian" (Q.S. ath-Thar: 16), "Orang-orang
abrar (berbuat baik) berada dalam kenikmatan
sedangkan mereka yang selalu berbuat dosa
berada di neraka Jahim" (Q.S. al-Infithar:
13-14).
Apabila engkau tetap menuntut ilmu dan
mencari harta dengan bersandar pada
kemurahan-Nya serta terus membekali diri
untuk akhirat, maka Tuhan Pemelihara dunia
dan akhirat adalah satu. Dia Maha Pemurah
dan Penyayang baik di dunia maupun di
akhirat. Ketaatanmu tidak membuat-Nya
bertambah pemurah. Hanya saja, kemurahan-
Nya adalah Dia memudahkan jalan menuju
negeri kenikmatan yang abadi dan kekal dengan
senantisa sabar dalam meninggalkan syahwat
selama beberapa saat. Ini merupakan puncak
kemurahan. Jangan engkau rusak dirimu
dengan ajaran jahat para pengangguran.
Ikutilah para nabi dan orang-orang saleh.
Jangan engkau terlalu berharap bisa memanen
sesuatu yang tak kau tanam. Sedangkan orang
yang berpuasa, salat, berjihad, serta bertakwa,
semoga ia diampuni.
Ini adalah beberapa hal yang patut dipelihara
oleh anggota badanmu. Engkau juga harus
membersihkan hatimu karena ia merupakan
bentuk ketakwaan secara batin. Hati adalah
segumpal daging yang jika baik maka seluruh
badan menjadi baik. Tapi jika segumpal daging
itu rusak, maka seluruh badan menjadi rusak.
Berusahalah untuk memperbaiki hatimu itu
agar seluruh anggota badanmu juga baik. Hati
menjadi baik dengan selalu merasakan
kehadiran Allah.
Lanjutan menghindari maksiat
Sebab, jika Allah menginginkan ke
baikan bagimu, niscaya Dia akan
memperlihatkan aib-aibmu. Tapi, apabila
engkau melihat dirimu dengan pandangan rida,
hal itu merupakan puncak kebodohan.
Selanjutnya, jika sangkaanmu memang benar,
bersyukurlah pada Allah Swt. Jangan malah
engkau rusak dengan mencela dan
menghancurkan kehormatan mereka. Sebab, hal
itu merupakan aib yang paling besar.
Keempat: mendebat orang. Karena, dengan
mendebat, kita telah menyakiti, menganggap
bodoh, dan mencela orang yang kita debat.
Selain itu, kita menjadi berbangga diri serta
merasa lebih pandai dan berilmu. Ia juga
menghancurkan kehidupan. Manakala engkau
mendebat orang bodoh, ia akan menyakitimu.
Sedangkan manakala engkau mendebat orang
pandai, ia akan membenci dan dengki padamu.
Nabi Saw. bersabda, "Siapa yang
meninggalkan perdebatan sedang ia dalam
keadaan salah, maka Allah akan membangun
untuknya sebuah rumah di tepi surga. Dan
siapa yang meninggalkan perdebatan padahal
dia dalam posisi yang benar Allah akan
membangun untuknya sebuah rumah di surga
yang paling tinggi."
Jangan sampai engkau tertipu oleh setan yang
berkata padamu, "Tampakkan yang benar,
jangan bersikap lemah!" Sebab, setan selalu
akan menjerumuskan orang dungu kepada
keburukan dalam bentuk kebaikan. Jangan
sampai engkau menjadi bahan tertawaan setan
sehingga dia mengejekmu. Menampakkan
kebenaran kepada mereka yang mau
menerimanya adalah suatu kebaikan. Tetapi
hal itu harus dilakukan dengan cara
memberikan nasihat secara rahasia bukan
dengan cara mendebat. Sebuah nasihat
memiliki karakter dan bentuk tersendiri. Harus
dilakukan dengan cara yang baik. Jika tidak, ia
hanya akan mencemarkan aib orang. Sehingga
kebukannya lebih banyak daripada kebaikan
yang ditimhulkannya. Orang yang sering
bergaul dengan para fakih zaman ini memiliki
karakter suka berdebat sehingga ia sulit diam.
Sebab, para ulama su' tersebut mengatakan
padanya bahwa berdebat merupakan sesuatu
yang mulia dan mampu berdiskusi merupakan
satu kebanggaan. Oleh karena itu, hindarilah
mereka sebagaimana engkau menghindar dari
singa. Ketahuilah, perdebatan merupakan sebab
datangnya murka Allah dan murka makhluk-
Nya.
Kelima: mengklaim diri bersih dari dosa. Allah
Swt. berfirman, "Jangan kalian merasa suci.
Dia yang lebih mengetahui siapa yang
bertakwa" (Q.S. an-Najm: 32). Sebagian ahli
hikmat ditanya, "Apa itu jujur yang buruk?"
Mereka menjawab, "Seseorang yang memuji
dirinya sendiri." Janganlah engkau terbiasa
demikian. Ketahuilah bahwa hal itu akan
mengurangi kehormatanmu di mata manusia
dan mengakibatkan datangnya murka Allah
Swt. Jika engkau ingin membuktikan bahwa
membanggakan diri tak membuat manusia
bertambah hormat padamu, lihatlah pada para
kerabatmu manakala mereka membanggakan
kemuliaan, kedudukan, dan harta mereka
sendiri, bagaimana hatimu membenci mereka
dan muak atas tabiat mereka. Lalu engkau
mencela mereka di belakang mereka. Jadi
sadarlah bahwa mereka juga bersikap demikian
ketika engkau mulai membanggakan diri. Di
dalam hatinya, mereka mencelamu dan hal itu
akan mereka ungkapkan ketika mereka tidak ber
ada di hadapanmu.
Keenam: mencela. Jangan sampai engkau
mencela ciptaan Allah Swt, baik itu hewan,
makanan, ataupun manusia. Janganlah engkau
dengan mudah memastikan seseorang yang
menghadap kiblat sebagai kafir, atau munafik.
Karena, yang mengetahui semua rahasia
hanyalah Allah Swt. Oleh karena itu, jangan
mencampuri urusan antara hamba dan Allah
Swt. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat
engkau tak akan ditanya, "Mengapa engkau
tidak mencela si fulan? Mengapa engkau men
diamkannya?" Bahkan, walaupun engkau tidak
mencela iblis sepanjang hidupmu dan engkau
melupakannya, engkau tetap tak akan ditanya
tentang hal itu serta tak akan dituntut
karenanya pada hari kiamat. Tapi, jika engkau
mencela salah satu makhluk Allah Swt. baru
engkau akan dituntut. Jangan engkau mencerca
sesuatu pun dari makhluk Allah Swt. Nabi
Saw. sendiri sama sekali tidak pernah mencela
makanan yang tidak enak. Jika beliau berselera
dengan sesuatu, beliau memakannya. Jika
tidak, beliau tinggalkan.
Ketujuh: mendoakan keburukan bagi orang lain.
Peliharalah lidahmu untuk tidak mendoakan
keburukan bagi suatu makhluk Allah Swt. Jika
ia telah berbuat aniaya padamu, maka serahkan
urusannya pada Allah Swt. Dalam sebuah
hadis disebutkan, "Seorang yang dianiaya
mendoakan keburukan bagi yang menganiaya
dirinya sehingga menjadi imbang, kemudian
yang menganiaya masih memiliki satu
kelebihan yang bisa ia tuntut kepadanya pada
hari kiamat." Sebagian orang terus mendoakan
keburukan bagi Hajjaj sehingga sebagian salaf
berkata, "Allah menghukum orang-orang yang
telah mencela Hajjaj untuknya, sebagaimana
Allah menghukum Hajjaj untuk orang yang
telah ia aniaya."
Kedelapan: bercanda, mengejek, dan menghina
orang. Peliharalah lidahmu baik dalam kondisi
serius maupun canda karena ia bisa
menjatuhkan kehormatan, menurunkan wibawa,
membuat risau, dan menyakiti hati. Ia juga
merupakan pangkal timbulnya murka dan
marah serta dapat menanamkan benih-benih
kedengkian di dalam hati. Oleh karena itu,
jangan engkau bercanda dengan seseorang dan
jika ada yang bercanda denganmu,jangan kau
balas. Berpalinglah sampai mereka mem
bicarakan hal lain.
Semua itu merupakan cacat yang terdapat pada
lidah. Yang perlu kau lakukan adalah
mengasingkan diri atau senantiasa diam kecuali
dalam keadaan darurat. diceritakan bahwa Abu
Bakar ash-Shiddiq r.a. meletakan sebuah batu
di mulutnya agar tidak berbicara keuali saat
perlu saja. Beliau menunjuk lidahnya lalu
berkata, "Inilah yang menjadi segala sumber
bagiku. kekanglah ia sekuat tenagamu, karena
ia merupakan faktor utama yang membuatmu
celaka di dunia dan akhirat."
Adapun perut, maka jangan kau isi ia dengan
barang haram atau syubhat. Berusahalah
untuk mencari yang halal. Jika engkau telah
mendapatkan yang halal, berusahalah
mengkonsumsinya tidak sampai kenyang.
Sebab, perut yang kenyang bisa membekukan
hati, merusak akal, menghilangkan hafalan,
memberatkan anggota badan untuk beribadah
dan menuntut ilmu, memperkuat syahwat,
serta membantu tentara setan. Jika kenyang
dari makanan halal merupakan awal segala
keburukan, bagaimana jika dari yang haram?
Mencari sesuatu yang halal merupakan
kewajiban bagi setiap muslim. Beribadah dan
menuntut ilmu yang disertai mengkonsumsi
makanan haram seperti membangun di atas
kotoran hewan. Apabila engkau merasa cukup
selama setahun memakai baju yang kasar, lalu
selama sehari semalam memakan dua potong
roti garing, lalu engkau tidak menikmati apa
yang lezat bagi manusia, maka engkau tak
butuh pada yang lain. Barang yang halal
sangat banyak. Engkau tidak perlu meyakinkan
dirimu dengan menyelidiki hal-hal yang
tersembunyi. Tapi engkau harus menjaga diri
dari yang sudah jelas kau ketahui bahwa itu
adalah haram. Atau setelah dilihat dari ciri-ciri
yang terkait dengan harta tersebut, engkau bisa
menduga bahwa itu adalah haram. Apayang
sudah diketahui tampak jelas secara lahir,
sementara yang bersifat dugaan tampak
dengan adanya ciriciri. Misalnya harta
penguasa dan para pekerjanya, harta orang
yang tak bekerja kecuali dengan cara menjual
khamar, riba, judi, dan sebagainya. Jika
engkau tahu bahwa sebagian besar hartanya
adalah haram, maka apa yang kau terima
darinya, walaupun mungkin halal, ia termasuk
haram karena adanya dugaan yang kuat tadi.
Yang jelas-jelas haram adalah memakan harta
wakaf tanpa izin atau syarat dari si pemberi
wakaf. Siapa yang melakukan maksiat,
kesaksiannya tertolak, dan wakaf atau apa pun
yang ia terima atas nama kesufian adalah
haram.
Kami telah menyebutkan hal-hal yang terkait
dengan masalah syubhat, halal, dan haram
dalam satu kajian tersendiri pada kitab Ihya
Ulumiddin. Pelajarilah kitab tersebut karena
mengetahui yang halal dan haram wajib
hukumnya bagi setiap muslim sebagaimana
salat lima waktu.
Adapun kemaluan, peliharalah ia dari semua
yang diharamkan Allah. Jadilah sebagaimana
yang disebutkan Allah Swt, "Mereka yang
menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau sahaya yang mereka
miliki, maka mereka tak dapat dicela" (Q.S. al-
Mukminun: 5-6). Engkau baru bisa menjaga
kemaluan dengan menjaga pandangan mata,
menjaga hati untuk tidak merenungkannya,
serta menjaga perut dari yang syubhat dan
dari rasa kenyang. Karena, semua itu
merupakan penggerak dan tempat tumbuhnya
syahwat.
Kedua tangan, harus engkau pelihara agar ia
tidak kau jadikan alat untuk memukul seorang
rnuslim, untuk mendapat harta haram, untuk
menyakiti sesama makhluk, untuk berkhianat
terhadap amanat dan titipan, serta untuk
menuliskan sesuatu yang tak boleh diucapkan
karena pena merupakan lidah pula. Oleh karena
itu,peliharalah pena tersebut sebagaimana
engkau menjaga lidah.
Janganlah engkau pergunakan kedua kaki untuk
menuju pintu seorang penguasa lalim. Sebab,
berjalan menuju para penguasa lalim tanpa ada
keperluan merupakan maksiat yang besar
karena berarti ia bersikap tawadu dan
memuliakan mereka yang telah berbuat lalirn.
Allah Swt.
Bab II MENGHINDARI MAKSIAT
Ketahuilah, bahwa agama Islam terdiri atas
dua bagian: meninggalkan apa yang dilarang
dan melakukan amal ketaatan. Meninggalkan
apa yang dilarang jauh lebih sulit karena
melakukan amal ketaatan dapat dilakukan
setiap orang, sedangkan meninggalkan syahwat
hanya bisa diwujudkan oleh mereka yang
tergolong shiddiqun. Oleh karena itu,
Rasulullah SAW. bersabda, "Orang yang
berhijrah adalah yang meninggalkan keburukan,
sedangkan orang yang berjihad adalah yang
berjuang melawan hawa nafsunya." Ketahuilah
bahwa ketika engkau bermaksiat sesungguhnya
engkau melakukan maksiat tersebut dengan
anggota badanmu padahal ia merupakan nikmat
dan amanat Allah yang diberikan kepadamu.
Mempergunakan nikmat Allah dalam rangkat
bermaksiat kepada-Nya adalah puncak
kekufuran. Dan berkhianat terhadap amanat
yang dititipkan Allah kepadamu betul-betul
merupakan perbuatan yang melampaui batas.
Anggota badanmu adalah rakyat atau
gembalaanmu, maka perhatikan dengan baik
bagaimana kamu menggembalakan mereka.
Masing-masing kalian adalah pemimpin dan
setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang
dipimpinnya. Sadarlah bahwa semua anggota
badanmu akan menjadi saksi atasmu pada hari
kiamat dengan lidah yang fasih. Ia akan
menyingkap rahasiamu di hadapan semua
makhluk. Allah Swt. berfirman, "Pada hari
dimana lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi
saksi atas perbuatan yang kalian
lakukan" (Q.S. an-Nur: 24) Allah Swt
berfirman, "Pada hari ini, Kami tutup mulut
mereka sedangkan tangan mereka berbicara
pada Kami dan kaki mereka menjadi saksi atas
apa yang mereka kerjakan" (Q.S. Yasin: 65).
Oleh karena itu, peliharalah semua anggota
badanmu dari maksiat, khususnya tujuh
anggota badanmu karena neraka Jahannam
memiliki tujuh pintu. Masing-masing mereka
mempunyai bagian tersendiri. Yang masuk ke
dalam pintu-pintu neraka Jahannam itu adalah
mereka yang bermaksiat kepada Allah Swt.
dengan tujuh anggota badan tersebut, yaitu
mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan,
dan kaki.
Mata diciptakan agar bisa memberi petunjuk
padamu di waktu gelap, agar bisa kau
pergunakan pada saat diperlukan, agar
dengannya engkau melihat semua keajaiban
langit dan bumi, dan agar engkau bisa
mengambil pelajaran dari tanda-tanda
kekuasaan-Nya. Maka dari itu, peliharalah
matamu itu dari empat hal: melihat yang
bukan mahram-nya, melihat gambar bagus
dengar syahwat, melihat seorang muslim
dengan pandangan meremehkan, serta melihat
aib seorang muslim.
Adapun telinga, maka peliharalah ia agar tidak
mendengar bidah, gibah, perkataan keji, takut
pada kebatilan, atau kejelekan orang. Telinga
tersebut diciptakan untukmu agar engkau bisa
mendengar kalam Allah Swt, sunah Rasulullah
Saw, dan kata hikmah para wali serta agar
engkau bisa mempergunakannya untuk bisa
menggapai surga yang penuh kenikmatan, kekal
abadi di sisi Tuhan Penguasa alam semesta.
Jika engkau mempergunakan telinga tersebut
pada sesuatu yang dibenci ia akan menjadi
beban atau musuh bagimu. Begitu pula ia akan
berbalik arah dari yang seharusnya bisa
mengantarkanmu menuju kesuksesan, menjadi
mengantarkanmu menuju kehancuran. Ini
benar-benar merupakan kerugian. Jangan
engkau mengira bahwa dosanya hanya
dibebankan kepada si pembicara, sedangkan si
pendengar terbebas dari dosa. Karena, dalam
riwayat disebutkan, pendengar adalah sekutu
bagi yang berbicara. Ia adalah salah satu pihak
dari dua orang yang sedang bergibah
(bergunjing).
Adapun lidah, maka ia diciptakan agar
dengannya engkau bisa banyak berzikir kepada
Allah Swt, membaca Kitab Suci-Nya, memberi
petunjuk kepada makhluk Allah lainnya, serta
mengungkapkan kebutuhan agama dan duniamu
yang tersimpan dalam hati. Apabila engkau
mempergunakannya bukan pada tujuan yang
telah digariskan berarti engkau telah kufur
terhadap nikmat Allah Swt. Lidah merupakan
anggota badanmu yang paling dominan.
Tidaklah manusia diceburkan ke dalam api
neraka melainkan sebagai akibat dari apa yang
dilakukan oleh lidah. Maka peliharalah ia
dengan semua kekuatan yang kau miliki agar ia
tidak menjerumuskanmu ke dalam dasar
neraka. Sebuah riwayat menyebutkan,
"Sesungguhnya seseorang berbicara dengan
satu kata yang dengannya ia ingin membuat
teman-temanuya tertawa, namun karena itu ia
jatuh ke dasar neraka selama tujuh puluh
musim." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa
ada seorang syahid yang terbunuh di dalam
peperangan pada masa Rasulullah Saw. Lalu
seseorang berkata, "Selamat baginya yang
telah memperoleh surga!" Tapi Rasul Saw.
kemudian bersabda, "Dari mana engkau tahu?
Barangkali ia pernah mengatakan sesuatu yang
tak berguna dan bakhil terhadap sesuatu yang
takkan pernah mencukupinya." Maka,
peliharalah lidahmu dari delapan perkara:
Pertama: berdusta. Jagalah lidahmu agar
jangan sampai berdusta baik dalam keadaan
yang serius maupun bercanda. Jangan kau
biasakan dirimu berdusta dalam canda karena
hal itu akan mendorongmu untuk berdusta
dalam hal yang bersifat serius. Berdusta
termasuk induk dosa-dosa besar. Kemudian,
jika engkau dikenal mempunyai sifat seperti itu
(pendusta) maka orang tak akan percaya pada
perkataanmu dan untuk selanjutnya engkau
akan hina dan dipandang sebelah mata.
Apabila engkau ingin mengetahui busuknya
perkataan dusta yang ada pada dirimu, maka
lihatlah perkataan dusta yang dilakukan orang
lain serta bagaimana engkau membenci,
meremehkan, dan tidak menyukainya. La
kukanlah hal semacam itu pada semua aib
dirimu. Sesungguhnya engkau tidak
mengetahui aibmu lewat dirimu sendiri tapi
lewat orang lain. Apa yang kau benci dari orang
lain, pasti juga orang lain membencinya dari
mu. Oleh karenanya, jangan kau biarkan hal itu
ada pada dirimu.
Kedua: menyalahi janji. Engkau tak boleh
menjanjikan sesuatu tapi kemudian tidak
menepatinya. Hendaknya engkau berbuat baik
kepada manusia dalam bentuk tingkah laku,
bukan dalam bentuk perkataan. Jika engkau
terpaksa harus berjanji, jangan sampai kau
ingkari janji tersebut, kecuali jika engkau betul-
betul tak berdaya atau ada halangan darurat.
Sebab, menyalahi janji merupakan salah satu
dari tanda-tanda nifak dan buruknya akhlak.
Nabi Saw. bersabda, "Ada tiga hal, yang jika
ada di antara kalian yang jatuh ke dalamnya
maka ia termasuk munafik, walaupun ia puasa
dan salat. Yaitu, jika berbicara ia berdusta, jika
berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat
ia berkhianat."
Ketiga: gibah (menggunjing). Peliharalah
lidahmu dari menggunjing orang. Dalam Islam,
orang yang melakukan perbuatan tersebut lebih
hebat daripada tiga puluh orang pezina.
Begitulah yang terdapat dalam riwayat. Makna
gibah adalah membicarakan seseorang dengan
sesuatu yang ia benci jika ia mendengarnya.
Jika hal itu engkau lakukan, maka engkau
adalah orang yang telah melakukan gibah dan
aniaya, walaupun engkau berkata benar.
Hindarilah untuk menggunjing secara halus. Ya
itu, misalnya engkau nyatakan maksudmu
secara tidak Iangsung dengan berkata,
"Semoga Allah memperbaiki orang itu.
Sungguh tindakannya sangat buruk padaku.
Kita meminta kepada Allah agar Dia
memperbaiki kita dan dia." Di sini terkumpul
dua hal yang buruk, yaitu gibah (karena dari
pernyataanya kita bisa memahami hal itu) dan
merasa bahwa diri sendiri bersih tidak ber
salah. Tapi, jika engkau benar-benar
bermaksud mendoakannya, maka berdoalah
secara rahasia jika engkau merasa berduka
dengan perbuatannya. Dengan demikian,
jelaslah bahwa engkau tak ingin membuka
rahasia dan aibnya. Kalau engkau
menampakkan dukamu karena aibnya, berarti
engkau sedang membuka aibnya. Cukuplah
firman Allah Swt. ini menghalangimu dari
gibah, "Jangan sebagian kalian menggunjing
sebagian yang lain. Apakah salah seorang di
antara kalian senang memakan daging
saudaranya yang sudah mati. Pasti kalian
tidak menyukainya" (Q.S. al-Hujurat: 12).
Allah mengibaratkanmu dengan pemakan
bangkai manusia. Oleh karena itu, alangkah
baiknya jika engkau menghindari perbuatan
tersebut. Jika engkau mau merenung, engkau
tak akan menggunjing sesama muslim.
Lihatlah pada dirimu, apakah dirimu itu
mempunyai aib, baik yang tampak secara
lahiriah maupun yang tersembunyi? Apakah
engkau sudah meninggalkan maksiat, baik
secara rahasia maupun terang-terangan? Jika
engkau menyadari hal itu, ketahuilah bahwa
ketidakberdayaan seseorang untuk menghindari
apa yang kau nisbatkan padanya sama seperti
ketidakberdayaanmu. Sebagaimana engkau
tidak suka jika kejelekanmu disebutkan, ia juga
demikian. Apabila engkau mau menutupi
aibnya, niscaya Allah akan menutupi aibmu.
Tapi apabila engkau membuka aibnya, Allah
akan jadikan lidah-lidah yang tajam mencabik-
cabik kehormatanmu di dunia, lalu Allah akan
membuka aibmu di akhirat di hadapan para
makhluk-Nya pada hari kiamat. Apabila engkau
melihat lahir dan batinmu lalu engkau tidak
menemukan aib dan kekurangan, baik dari
aspek agama maupun dunia, maka ketahuilah
bahwa ketidaktahuanmu terhadap aibmu itu
merupakan kedunguan yang sangat buruk. Tak
ada aib yang lebih hebat daripada kedunguan
tersebut. Sebab, jika Allah menginginkan ke
baikan bagimu, niscaya Dia akan
memperlihatkan aib-aibmu. Tapi, apabila
engkau melihat dirimu dengan pandangan rida,
Adab berpuasa
Adab Berpuasa
Hendaknya engkau tidak hanya berpuasa di
bulan Ramadan. Sebab dengan demikian
engkau tak berniaga dengan amal-amal sunah
dan tak memperoleh derajat mulia di surga
Firdaus. Akhirnya engkau akan merugi dan
menyesal manakala melihat derajat orang yang
berpuasa sebagaimana engkau melihat bintang
yang gemerlapan di tingkat tertinggi.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ada
beberapa hari yang jika kita berpuasa di
dalamnya akan memberikan berbagai
keutamaan dan ganjaran pahala yang besar.
Hari-hari tersebut adalah hari Arafah bagi
mereka yang tidak berhaji, hari Asyura,
sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah,
sepuluh hari pertama dari bulan Muharam,
bulan Rajab dan Syakban, bulan-bulan Haram
(Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab),
satu bulan di antaranya terpisah sedang yang
tiga bulan lainnya berurutan. Ini dalam
setahun. Sementara dalam sebulan, waktu-
waktu mulia untuk berpuasa adalah di awal, di
pertengahan, dan di akhir bulan, serta pada
hari-hari al-bidh (yaitu tanggal 13, 14, dan 15).
Sementara dalam seminggu, waktu-waktu yang
utama untuk berpuasa adalah hari Senin,
Kamis, dan Jumat. Dosa-dosa dalam
seminggu bisa terhapus dengan puasa pada
hari-hari tersebut. Sementara dosa dalam
sebulan bisa dihapuskan dengan puasa di awal
bulan, di pertengahan dan di akhir bulan, serta
hari-hari al-bidh. Begitu Dula dosa dalam
setahun bisa terhapus dengan puasa pada
hari-hari dan bulan-bulan yang telah
disebutkan di atas.
Jangan engkau mengira bahwa puasa itu hanya
meninggalkan makan, minum dan berhubungan
badan. Nabi SAW. bersabda, "Betapa banyak
orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-
apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."
Puasa menjadi sempurna dengan menahan
anggota badan dari melakukan sesuatu yang
menimbulkan kebencian Allah SWT. Oleh
karena itu, engkau harus bisa menjaga mata
untuk tidak memandang sesuatu yang tidak
baik, menjaga lidah untuk tidak membicarakan
sesuatu yang tak ada gunanya, menjaga telinga
untuk tidak mendengarkan apa yang diharam
kan Allah karena yang mendengar menjadi
sekutu bagi yang berbicara. Jadi, termasuk
yang melakukan gibah. Begitu pula engkau
harus memelihara semua anggota badan
sebagaimana engkau memelihara perut dan ke
maluan. Sebuah riwayat menyebutkan, "Lima
hal yang membatalkan pahala orang yang
berpuasa: berdusta, namimah, sumpah palsu,
dan melihat dengan syahwat." Nabi Saw.
bersabda, "Puasa adalah tameng. Jika salah
seorang di antara kalian sedang berpuasa,
maka jangan berbuat jorok dan keji serta
jangan berlaku bodoh. Apabila ada seseorang
yang ingin memusuhi atau mencelamu, maka
katakan, 'Aku sedang berpuasa."
Kemudian berusahalah untuk berbuka dengan
makanan halal. Jangan makan terlalu banyak
dimana engkau menambah jatah makan pada
setiap malam karena puasamu. Maka, tidak ada
bedanya jika jatah makan dua kali engkau
habiskan dalam satu kali makan. Padahal,
maksud dari berpuasa adalah agar engkau bisa
menghancurkan syahwatmu dan
melipatgandakan kekuatanmu dalam bertakwa.
Jika pada petang harinya engkau makan lebih,
maka puasamu tak berguna dan perutmu
menjadi beban bagimu. Jika tak ada tempat
yang paling dibenci Allah Swt. daripada perut
yang diisi penuh dengan makanan halal,
bagaimana jika ia diisi dengan makanan
haram?!
Apabila engkau mengetahui makna puasa
tersebut, maka perbanyaklah berpuasa
semampumu karena ia merupakan landasan
ibadah dan kunci untuk mendekat kepada Allah
Swt. Rasulullah Saw. bersabda, "Allah Swt.
berfirman, 'Setiap kebajikan dibalas dengan
sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat,
kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan
Aku sendiri yang akan membalasnya.'" Rasul
SAW. bersabda, "Demi jiwaku yang ada di
tangan-Nya, bau mulut orang yang sedang ber
puasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma
minyak misik." Allah Azza wa Jalla berkata,
"Dia meninggalkan syahwat, makanan, dan
minumannya karena Aku. Puasa adalah untuk-
Ku dan Aku yang akan membalasnya." Nabi
Saw. bersabda, "Di surga ada pintu yang
bernama ar-Rayyan. Hanya orang yang
berpuasa yang masuk ke dalamnya."
Penjelasan tentang masalah ketaatan ini cukup
untukmu sebagai awal dari sebuah hidayah.
Jika engkau menginginkan penjelasan tentang
zakat dan haji atau tambahan keterangan
tentang salat dan puasa, maka cobalah engkau
cari dalam tulisan kami di dalam kitab Ihya
Ulumiddin.
Adab sholat jumat
Adab Salat Jum'at
Ketahuilah bahwa Jum'at merupakan hari raya
bagi orang-orang yang beriman. Ia merupakan
hari mulia yang khusus diperuntukkan Allah
bagi umat ini. Di dalamnya ada saat-saat
penting yang apabila seorang mukmin meminta
kebutuhannya kepada Allah SWT, pasti Allah
akan mengabulkan. Oleh karena itu, persiapkan
lah dirimu untuk menghadapi hari raya
tersebut semenjak hari Kamis dengan cara
membersihkan pakaian dan banyak bertasbih
dan istigfar pada Kamis petang (sore)-nya,
karena keutamaan saat itu sama dengan
keutamaan hari Jumat. Berniatlah untuk
berpuasa untuk hari Jumat. Tetapi harus
dengan hari Kamis atau hari Sabtu, tidak boleh
dikerjakan pada hari Jumat saja.
Jika subuh telah tiba, mandilah dengan niat
mandi Jumat karena mandi pada hari Jumat
hukumnya sunah muakkad. Kemudian
berhiaslah dengan memakai pakaian putih
karena itulah pakaian yang paling dicintai Allah
Swt, lalu pakailah parfum yang paling wangi
yang kamu miliki, dan bersihkan badanmu
dengan bercukur rambut, menggunting kuku,
bersiwak, dan yang lainnya, kemudian
segeralah bergegas menuju mesjid dan
berjalanlah dengan perlahan dan tenang. Nabi
Saw. bersabda, "Siapa yang pergi untuk salat
Jumat di waktu yang pertama seakan-akan ia
telah berkurban unta, siapa yang pergi pada
waktu kedua seakan-akan ia berkurban sapi
betina, siapa yang pergi di waktu ketiga,
seakan-akan ia berkurban kambing kibas, siapa
yang pergi di waktu ke empat seakan-akan ia
berkurban ayam, siapa yang pergi di waktu
kelima seakan-akan ia berkurban telur. Jika
imam sudah keluar atau naik mimbar, maka
lembaran-lembaran itu pun dilipat dan pena-
pena diangkat, sementara para malaikat
berkumpul di mimbar untuk mendengarkan
zikir / peringatan."
Disebutkan bahwa kedekatan manusia dalam
pandangan Allah SWT, bergantung pada
cepatnya mereka menuju salat Jumat.
Kemudian, apabila engkau berada di mesjid,
usahakan untuk berada di shaf yang pertama.
Jika manusia sudah banyak berkerumun,
jangan melewati pundak mereka dan jangan
pula lewat di hadapan mereka yang sedang
salat. Duduklah dekat tembok agar mereka
tidak lewat di depanmu. Sebelum itu lakukan
lah salat tahiyyatul masjid. Lebih baik lagi,
kalau engkau salat sebanyak empat rakaat.
Dalam setiap rakaat, setelah membaca surat
al-Fatihah, engkau membaca surat al-Ikhlas
sebanyak lima puluh kali. Disebutkan dalam
satu riwayat bahwa siapa yang melakukan
amalan tersebut, ia tidak akan meninggal dunia
sampai melihat tempat duduknya di surga atau
hal itu diperlihatkan padanya. Jangan sampai
engkau meninggalkan salat tahiyyatul masjid
walaupun imam sedang berkhotbah.
Disunahkan agar dalam empat rakaat itu
engkau membaca surat al-An'am, surat al-
Kahfi, surat Thaha, dan surat Yasin. Jika
tidak mampu, engkau bisa membaca surat
Yásin, surat ad-Dukhan' , surat Alif Lam
Mim , as-Sajadah, dan surat al-Mulk.
Sebaiknya engkau membaca surat tersebut pa
da malam Jumat karena di dalamnya banyak
sekali keutamaan. Siapa yang tak bisa,
perbanyaklah membaca surat al-Ikhlas.
Perbanyaklah membaca salawat atas
Rasulullah SAW. khususnya pada hari
tersebut. Manakala imam atau khatib sudah
naik mimbar, berhentilah dari salat dan
berbicara. Sibukkan dirimu dengan menjawab
panggilan azan serta dengan mendengarkan
khotbah dan ceramah. Sama sekali tak boleh
berbicara ketika khatib sedang berkhotbah.
Dalam riwayat disebutkan, "Siapa yang ber
kata kepada temannya, `Diamlah” saat imam
berkhotbah maka ia telah berbuat sia-sia. Dan
siapa yang berbuat sia-sia, maka ia tak
mendapat keutamaan Jumat." itu karena
perintah diam itu sendiri berbentuk ucapan.
Sebaiknya larangan diberikan dalam bentuk
isyarat, bukan dengan kata-kata.
Lalu ikutilah perbuatan imam seperti telah
disebutkan sebelumnya. Apabila telah selesai,
sebelum berbicara bacalah surat al-Fatihah,
surat al-Ikhlas, surat al‑Falaq dan surat an-
Naas, masing-masing tujuh kali. Itu akan
melindungimu dari Jumat ke Jumat, juga akan
menjagamu dari setan. Setelah itu, bacalah:
“Allahumma yaa ghaniyy yaa hamiid yaa
Mubdii yaa mu’iid yaa rahiimi yaa
waduud aghninii bihalalika ‘an haramika
bi fadhlika ‘an ma’shiyatika wabifadhlika
‘amman siwaak.”
"Ya Allah wahai Zat Yang Mahakaya, Maha
Terpuji, Maha Memulai, Maha Mengembalikan,
Maha Penyayang, dan Maha Pemberi. Berilah
kecukupan padaku dengan yang halal bukan
yang haram; dengan taat, bukan maksiat; dan
dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu."
Setelah itu, lakukanlah salat dua rakaat atau
enam rakaat yang dilakukan dengan dua-dua.
Semua itu terdapat dalam riwayat yang
berasal dari Rasulullah Saw. dalam kondisi
yang berbeda-beda.
Kemudian menetaplah di mesjid sampai waktu
maghrib atau asar. Hendaknya engkau selalu
memperhatikan waktu yang mulia. Sebab,
waktu mulia tersebut terdapat sepanjang hari
itu, tapi tidak ditentukan secara pasti. Mudah-
mudahan engkau memperolehnya ketika sedang
berada dalam kondisi yang khusyuk dan
tunduk kepada Allah SWT. Selama di mesjid,
jangan engkau mendekati majelis cerita dan
kisah. Tapi, hendaknya engkau menghampiri
majelis yang berisi ilmu yang bermanfaat.
Majelis itulah yang bisa membuatmu lebih
takut kepada Allah dan membuatmu kurang
cinta pada dunia. Jika suatu ilmu tak mampu
mengajakmu untuk meninggalkan dunia menuju
akhirat, maka lebih baik tak usah mengetahui
ilmu tersebut. Berlindunglah kepada Allah dari
ilmu yang tak bermanfaat.
Perbanyaklah berdoa ketika matahari terbit,
tergelincir, dan terbenam, ketika khatib naik
mimbar, dan ketika orang-orang berdiri untuk
menunaikan salat, karena kemungkinan besar
itulah waktu-waktu yang mulia.
Berusahalah untuk bersedekah semampumu
pada hari tersebut walaupun sedikit. Dengan
demikian, engkau telah mengumpulkan antara
salat, puasa, sedekah, membaca Alquran, zikir,
dan iktikaf. Jadikan hari tersebut sebagai
waktu yang khusus kau peruntukkan bagi
akhiratmu ; barangkali is menjadi penebus
dosa bagi hari-hari lainnya dalam seminggu.