Tampilkan postingan dengan label MEMBONGKAR KEDUSTAAN ULAMA WAHABI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEMBONGKAR KEDUSTAAN ULAMA WAHABI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2014

Pengakuan syekh albani

PENGAKUAN ALBANI BAHWA DIA BUKAN
PENGHAFAL HADITS TETAPI HANYA PEMBACA
BUKU:
Suatu ketika ada seorang pengacara (muhami)
yg mengikuti majlis ilmu albani brtanya
kpdnya:
"Engkau seorang Muhaddits??"
"Ya!" jwb albani.
"bisakah engkau meriwayatkan padaku 10
hadits yg sanadnya sambung menyambung
sampai Rasulullah saw?"
Albani menjawab:
ﺃﻧﺎﻟﺴﺖ ﻣﺤﺪﺙ ﺣﻔﻆ ﺑﻞ ﻣﺤﺪﺙ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ
"aku bukanlah muhaddits yg hafal hadits tp
aku hanyalah muhaddits kitab"
si penanya pun mengomentari:
"Kalau begitu saya pun bisa menjadi
muhaddits kitab (buku)"
Albani terdiam seketika mndengar jwban si
penanya.
Lihat:
[1.] Tabyin Dhalalat Albani syeikh wahabiyah
al muhaddits karya syeikh Abdullah al harari
hal.6
Bagaimana mungkin ulama sekaliber Al-Bani
yg di sematkankan gelar sebagai MUHADITS
oleh para pengagumnya kok sampai tdk
mampu utk menyebutkan 10 hadits yg
lengkap dg sanadnya yang bersambung
sampai kepadai Rosululloh saw???

Pengakuan syekh albani

PENGAKUAN ALBANI BAHWA DIA BUKAN
PENGHAFAL HADITS TETAPI HANYA PEMBACA
BUKU:
Suatu ketika ada seorang pengacara (muhami)
yg mengikuti majlis ilmu albani brtanya
kpdnya:
"Engkau seorang Muhaddits??"
"Ya!" jwb albani.
"bisakah engkau meriwayatkan padaku 10
hadits yg sanadnya sambung menyambung
sampai Rasulullah saw?"
Albani menjawab:
ﺃﻧﺎﻟﺴﺖ ﻣﺤﺪﺙ ﺣﻔﻆ ﺑﻞ ﻣﺤﺪﺙ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ
"aku bukanlah muhaddits yg hafal hadits tp
aku hanyalah muhaddits kitab"
si penanya pun mengomentari:
"Kalau begitu saya pun bisa menjadi
muhaddits kitab (buku)"
Albani terdiam seketika mndengar jwban si
penanya.
Lihat:
[1.] Tabyin Dhalalat Albani syeikh wahabiyah
al muhaddits karya syeikh Abdullah al harari
hal.6
Bagaimana mungkin ulama sekaliber Al-Bani
yg di sematkankan gelar sebagai MUHADITS
oleh para pengagumnya kok sampai tdk
mampu utk menyebutkan 10 hadits yg
lengkap dg sanadnya yang bersambung
sampai kepadai Rosululloh saw???

Selasa, 25 Februari 2014

SHOLAWAT BID'AH WAHABI

SHOLAWAT BID'AH CIPTAAN dari Ulama
Salafy Wahabi.
Dalam muqodimah kitab Al-Khuthob Al-
Mimbariyah, Muhammad Bin Abdul Wahhab
menulis sholawat dengan
redaksi sebagai berikut:
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺪﻙ ﻭﺭﺳﻮﻟﻚ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ
ﺁﻟﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ
ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻫﻢ ﺑﻬﺪﻳﻪ ﻣﺴﺘﻤﺴﻜﻮﻥ ، ﻭﺳﻠﻢ ﺗﺴﻠﻴﻤﺎ
ﻛﺜﻴﺮﺍ .
Dalam muqodimah kitab Syarah
Manzhumah Al-Qowa’id Wal Ushul,Utsaimin
menulis sholawat dengan redaksi sebagai
berikut:
ﻓﺼﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ
ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﻣﻦ ﺗﺒﻌﻬﻢ
ﺑﺈﺣﺴﺎﻥ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ .
Dalam muqodimah kitab Ahkamun Nisa’, Al-
bani menulis sholawat dengan redaksi sebagai
berikut:
ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺃﺭﺳﻠﻪ ﻫﺎﺩﻳًﺎ ,
ﻭﺑﺸﻴﺮًﺍ , ﻭﻧﺬﻳﺮًﺍ
Kesimpulan:
Dalam redaksi sholawat yang diulis oleh
Muhammad Bin Abdul Wahhab terdapat
kalimat.. “Hum bihadihi mustamsikun”.
Dalam redaksi sholawat yang tulis oleh
Utsaimin terdapat kalimat “waman tabi’ahum bi
ihsan ila
yaumiddin.”
Dalam redaksi sholawat yang tulis oleh Al-bani
terdapat kalimat “man arsalahu hadiyan,basyiro
n wa nadziro.”
Apakah Rosululloh SAW pernah
mengajarkan sholawat yang
didalamnya terdapat kalimat-kalimat tersebut?
Jawabannya adalah Tidak…
Tidak… dan Tidak… Kalimat-kalimat tersebut
adalah bid’ah ciptaan ulama wahhabi.
Wahhabi melarang orang lain
membuat redaksi sholawat, dan menyebutnya
sebagai bid’ah yang sesat.
Namun mereka sendiri membuat redaksi
sholawat yg mana tidak pernah di lakukan oleh
Nabi saw...
apakah para murid talafy berani menghukumi
pembuat sholawat di atas adalah ulama sesat/
ulama penyebar bid'ah????

Sumber:ahmad muzaqy

Sabtu, 18 Januari 2014

BACA INI DAFTAR KESEMBRONOAN2 YANG DILAKUKAN ALBANI DIDALAM MENELITI HADITS. AHLI HADIST APAAN KAYAK GINI???

'Hal yang aneh dan mencengangkan adalah bahwa Syeikh Albani banyak menyalahpahami sejumlah besar hadis para Ulama dan tidak mengindahkan mereka, diakibatkan pengetahuannya yang terbatas, baik secara langsung atau tidak langsung. Ia memuji dirinya sendiri sebagai sumber yang 'tidak terbantahkan' dan seringkali mencoba meniru para Ulama Besar dengan menggunakan sejumlah istilah seperti 'Lam aqif ala sanadih', yang artinya 'Saya tidak dapat menemukan sanadnya', atau menggunakan istilah yang serupa. Ia juga menuduh sejumlah penghafal hadis terbaik dengan tuduhan 'kurang teliti', meskipun ia sendiri (yaitu Syeikh Albani) adalah contoh terbaik untuk menggambarkannya (yaitu seorang yang bermasalah tentang ketelitiannya). Sekarang akan kami sebutkan beberapa contoh untuk membuktikan penjelasan kami :


1. Syeikh Albani menyatakan dalam 'Irwa Al-Gholil 6251 no. 1847′ (dalam kaitannya dengan sebuah riwayat dari Ali ra.) : 'Saya tidak dapat menemukan sanadnya'.

JAWAB : 'Sangat menggelikan Jika Syeikh Albani memang benar adalah salah satu dari Ulama dalam Islam, maka ia akan mengetahui bahwa hadis ini dapat ditemukan dalam kitab 'Sunan Baihaqi' 7121 : yang diriwayatkan oleh Abu Sayid Ibn Abi Amarah, yang berkata bahwa Abu al-Abbas Muhammad Ibn Yaqub, yang berkata kepada kami bahwa Ahmad Ibn Abdal Hamid berkata bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma Ibn Kahil dari Muawiya Ibn Sua'id, 'Saya menemukan hadis -pent ini dalam kitab BAPAKKU dari SAYYIDINA Ali ra.'


2.Syeikh Albani menyatakan dalam 'Irwa Al-Gholil 3283 : hadis dari Ibn Umar ra. :'Ciuman adalah riba. : 'Saya tidak dapat menemukan sanadnya'.

  • JAWAB : 'Hal ini adalah kesalahan yang fatal, karena secara pasti hadis ini dinukil dalam 'Fatawa Al-Shaykh Ibn Taymiyya Al-Misriyah (3/295)' : 'Harb berkata Ubaidillah Ibn Muadz berkata kepada kami, Ayahku berkata kepadaku bahwa Sua'id dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra. Berkata :'Ciuman adalah riba'. Dan seluruh perawi hadis ini adalah terpercaya menurut Ibn Taimiyah.


3.Hadis dari Ibn Mas'ud ra. : 'Al-Qur'an diturunkan dengan 7 dialek. Semua yang ada dalam versi ini mempunyai makna eksplisit dan implisit dan semua larangan sudah pula dijelaskan'. Syeikh Albani menyatakan dalam penelitiannya atas kitab 'Mishkat Masabih 180 no. 238, bahwa penulis dari 'Mishkat' mengomentari sejumlah hadis dengan kalimat 'Diriwayatkan dalam Sharhus Sunnah', tetapi ketika ia meneliti 'Bab Ilm wa Fadhoil Al-Qur'an' ia tidak dapat menemukannya.


JAWAB : Para Ulama Besar telah berbicara SALAH, sebagaimana biasanya. Saya berharap untuk meluruskan 'penyimpangan' ini, hanya jika ia (yaitu Syeikh Albani -pent) memang serius serta tertarik untuk mencari hadis ini, maka kami persilahkan ia untuk melihat Bab yang berjudul 'Al-Khusama fi al-Qur'an' dari Sharh-us-Sunnah' (1/262), dan diriwayatkan juga oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya (no. 74), Abu Ya'ala dalam Musnad-nya (no.5403), At-Tahawi dalam Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) dan Haitami telah menyebutkannya dalam Majmu' al-Zawaid (7/152) dan ia menisbatkannya kepada Al-Bazzar, Abu Ya'la dan Tabarani dalam Al-Autsat, yang menyatakan bahwa para perawinya adalah terpercaya'.


4.Syeikh Albani menyatakan dalam 'kitab Shohih-nya' ketika mengomentari Hadis no. 149 : 'Orang beriman adalah orang yang tidak memenuhi perutnya. Hadis ini berasal dari Aisyah ra. sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Mundhiri (3/237) dan Al-Hakim dari Ibn Abas RA.. Saya (Albani) tidak menemukannya dalam Mustadrak al-Hakim setelah mencarinya dalam 'bagian pemikiran' ('Thoughts' section - versi bahasa inggris).
JAWAB : 'Tolong jangan mendorong masyarakat untuk jatuh dalam kebodohan dengan kekacauan yang engkau lakukan Jika engkau meneliti Kitab Mustadrak Al-Hakim (2/12), engkau akan menemukan hadis ini Hal ini membuktikan bahwa engkau tidak mampu untuk menggunakan indeks buku dan hafalan hadis .


5.Penilaian yang lain yang juga menggelikan apa yang dilakukan oleh Albani dalam Kitab 'Shohih-nya 2/476′, ketika mengklaim bahwa hadis : 'Abu bakar adalah bagian dariku, sambil memegang posisi dari telingaku', tidak ada dalam kitab 'Hilya'.
JAWAB : Kami menyarankan engkau untuk kembali melihat kitab "Hilya , 4/73"


6.Syeikh Albani berkata dalam kitab "Shahihah, 1/638 no. 365, edisi keempat : 'Yahya ibn Malik telah diabaikan oleh enam Ulama Hadis yang Utama, karena ia tidak disebutkan dalam kitab Tahdzib, Taqrib atau Tadzhib'.
JAWAB: 'Ini adalah menurut persangkaanmu Kenyataannya sebenarnya tidak seperti itu, karena secara pasti Ia (yaitu Al-hafidz Ibn Hajar -pent) telah menyebutkannya (yaitu Yahya ibn Malik -pent) dalam Tahdhib Al-Tahdhib li Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani (12/19 - Edisi Dar El-Fikr) dengan nama kuniyah Abu Ayub Al-Maraghi'. Maka berhati-hatilah


7.Syeikh Albani mengkritik Imam Al-Muhadis Abu'l Fadl Abdullah Ibn Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) ketika menyebutkan dalam kitabnya "Al-Kanz Al-Thamin" sebuah hadis dari Abu Hurairah ra. yang berkaitan dengan perawi Abu Maimunah : 'Sebarkan salam, berilah makan faqir-miskin …'.
Syeikh Albani menyatakan dalam 'Silsilah Al-Dhoifah, 3/492′, setelah menisbatkan hadis kepada Imam Ahmad (2/295) dan lainnya, : 'Saya katakan bahwa sanad hadis ini 'Dhoif' (lemah), Daraqutni telah berkata bahwa 'Qatada dari Abu Maimuna dari Abu Hurairah : Tidak dikenal (Majhul), dan hadisnya ditinggalkan'. Syeikh Albani kemudian berkata pada paragraf yang sama : 'Sebagai catatan, sesuatu yang aneh terjadi diantara Imam Suyuti dan Al-Munawi ketika mereka meneliti hadis ini, dan saya juga telah menunjukkannya pada hadis no. 571, bahwa Al-Ghimari juga salah ketika menyebutkan hadis ini dalam 'Al-Kanz '.
Akan tetapi realitanya menunjukkan bahwa Albani-lah yang sebenarnya paling sering melakukan kesalahan, ketika ia membuat kontradiksi yang besar dengan menggunakan sanad yang sama dalam "Irwa al-Ghalil, 3/238″, tatkala ia berkata : 'Dinukil oleh Imam Ahmad (2/295), Al-Hakim dari Qatada dari Abu Maimuna dan ia adalah perawi yang terpercaya dalam kitab 'Al-Taqrib', dan Hakim berkata : 'A Sahih Sanad', dan Al-Dhahabi setuju dengan penilaian Imam Hakim Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan ini Lalu siapakan menurut pendapat anda yang melakukan kesalahan dan penyimpangan, apakah Al-Muhaddis Al-Ghumari (termasuk Imam Suyuti and Munawi) ataukah Syeikh Albani ?


8.Syeikh Albani hendak melemahkan hadis yang membolehkan para wanita memakai perhiasan emas, dimana pada sanad hadis itu terdapat seorang perawi bernama Muhammad ibn Imara. Syeikh Albani mengklaim bahwa Abu Hatim berkata bahwa perawi ini adalah 'tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)', lihat kitab "Hayat Syeikh Albani wa-Atharu jilid 1, hal. 207."
Yang sebenarnya bahwa Imam Abu Hatim Al-Razi menyatakan dalam Kitabnya 'Al-Jarh wa At-Ta'dil, 8/45′: 'Perawi yang baik akan tetapi tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)'. Oleh karena itu, perlu dicatat bahwa Syeikh Albani menghilangkan kalimat 'Perawi yang baik'.
NB - Syeikh Albani telah membuat sejumlah hadis yang melarang emas untuk para wanita menjadi hadis yang shohih, walaupun sebelumnya sejumlah Ulama telah menyatakan bahwa hadis-hadis ini adalah 'Dhoif' dan dihapus dengan hadis lain yang membolehkan emas bagi wanita. DR. Yusuf al-Qardawi berkata dalam bukunya : 'Islamic Awakening between Rejection and Extremism' (judul dalam versi bahasa Inggris -pent) hal. 85: 'Pada masa kami muncullah Syeikh Nasirudin Syeikh Albani dengan pendapat-pendapatnya, yang ternyata banyak bertentangan dengan kesepakatan (Ijma') yang membolehkan para wanita untuk menghiasi dirinya dengan emas, dimana pendapat ini telah diterima oleh seluruh Madzhab selama 14 abad lamanya. Ia (yaitu Syeikh Albani -pent) tidak hanya menyakini bahwa hadis-hadis ini adalah shohih, akan tetapi hadis ini juga tidak dihapus (dinasakh ketentuan hukumnya -pent). Sehingga, ia menyakini bahwa hadis-hadis itu melarang cincin dan anting emas bagi wanita. Sehingga kalau demikian faktanya, maka siapakah yang menetang Ijma' Umat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrim ? .


9.Hadis : Mahmud ibn Lubaid ra. berkata : 'Rasul SAW telah mendapat informasi tentang seorang lelaki yang telah menceraikan istrinya sebanyak tiga kali (dalam satu duduk), kemudian beliau menjadi marah dan berkata: "Apakah ia hendak mempermainkan Kitab Allah , tatkala aku masih ada diantara kalian ? kemudian seorang lelaki berdiri dan berkata : 'Wahai Nabi Allah, apakah saya boleh membunuhnya ?" (HR. An-Nasa'I).
Syeikh Albani menyatakan bahwa Hadith ini adalah 'Dhoif' dalam penelitiannya pada "Mishkat al-Masabih, 2/981 (edisi ketiga, Beirut 1405 H; Maktab Al-Islami)", ketika dia berkata : 'Orang ini adalah terpercaya, tetapi sanadnya terputus karena ia tidak mendengar hadis ini dari ayahnya'.

Syeikh Albani kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia lakukan sebelumnya dalam Kitab-nya yang berjudul "Ghayatul Maram Takhrij Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, hal. 164, edisi ketiga, Maktab al-Islami, 1405 H"; dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah hadis yang 'SAHIH'


10.Hadis : 'Jika salah seorang dari kalian tidur dibawah (sinar) matahari dan ada bayangan menutupi dirinya, dan sebagian dirinya berada dalam bayangan itu dan bagian yang lain terkena (sinar) matahari, hendaknya ia bangun'. Syeikh Albani menyatakan bahwa Hadith ini 'SAHIH' dalam penelitiannya pada "Shahih Al-Jami' Al-Shaghir wa Ziyadatuh (1/266/761)", tetapi kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis 'Dhoif' pada penelitiannya atas kitab "Mishkat Al-Masabih, 3/1337 no. 4725, edisi ketiga", dan ia menisbatkan hadis ini pada kitab 'Sunan Abu Dawud' "


11.Hadis : 'Sholat Jum'at adalah wajib bagi setiap muslim'. Syeikh Albani menilai bahwa Hadith ini adalah hadis 'Dhoif', pada penelitiannya di kitab "Mishkat Al-Masabih, 1/434″, Dan berkata : 'Perawi hadis ini adalah terpercaya tetapi (sanadnya) tidak bersambung sebagaimana diindikasikan oleh Imam Abu Dawud'. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam Kitab "Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592″, dengan menyatakan bahwa hadis ini adalah hadis yang 'SAHIH' Maka berhati-hatilah, Wahai orang yang bijaksana ?


12.Syeikh Albani membuat kontradiksi yang lain. Ia menganggap Al-Muharrar ibn Abu Huraira sebagai perawi terpercaya di satu tempat dan didhoifkan ditempat yang lain. Syeikh Albani menyatakan dalam kitab "Irwa al-Ghalil, 4/301″ bahwa 'Muharrar adalah terpercaya dengan pertolongan Allah SWT, dan Al-Hafiz (yaitu Ibn Hajar) mengomentarinya 'Dapat diterima', bahwa pernyataan ini (yaitu penilaian Al-Hafidz Ibn Hajar -pent) tidak dapat diterima, oleh karena itu sanadnya shohih'. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Sahihah 4/156″ dimana ia menjadikan sanadnya 'Dhoif', dengan berkata : "Para perawinya seluruhnya adalah para perawi Imam Bukhori" , kecuali Al-Muharrar yang merupakan salah satu perawi Imam An-Nasa'I dan Ibn Majah saja. Ia tidak dipercaya kecuali hanya Ibn Hibban, dan karena sebab itulah Al-Hafidz Ibn Hajar tidak mempercayainya, hanya saja ia berkata 'Dapat Diterima' ?? Berhati-hatilah dari penyimpangan ini


13.Hadis : Abdullah Ibn Amr ra. : 'Sholat Jum'at menjadi wajib bagi siapapun yang medengar seruannya' (HR. Abu Dawud). Syeikh Albani menyatakan bahwa hadis adalah hadis 'Hasan' dalam "Irwa Al-Ghalil 3/58″, Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Dhoif', dalam Kitab "Mishkatul Masabih 1/434 no 1375″


14.Hadis : Anas Ibn malik ra. berkata bahwa Nabi SAW pernah bersabda : 'Janganlah menyulitkan diri kalian sendiri, kalau tidak Allah akan menyulitkan dirimu. Tatkala ada manusia yang menyulitkan diri mereka, maka Allah-pun akan menyulitkan mereka' (HR. Abu Dawud).
Syeikh Albani menyatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' pada penelitiannya dalam kitab "Mishkat, 1/64″, Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Hasan' dalam Kitab "Ghayatul Maram, Hal. 141″


15.Hadis dari Sayidah Aisyah ra. : 'Siapapun yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi SAW buang air kecil dengan berdiri, maka jangan engkau mempercayainya. Beliau tidak pernah buang air kecil kecuali beliau dalam keadaan duduk' (HR. Ahmad, An-Nasa'I dan At-Tirmidzi).
Syeikh Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini adalah 'Dhoif' dalam "Mishkat 1/117." Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'SAHIH' dalam "Silsilat Al-Ahadis Al-Shahihah 1/345 no. 201″ Maka ambillah pelajaran dari ini, wahai pembaca yang mulia ?


16.Hadis : Ada 3 kelompok orang, dimana para Malaikat tidak akan mendekat : 1). Mayat dari orang kafir; 2). Laki-laki yang menggunakan parfum wanita; 3). Seseorang yang melakukan jima' (hubungan sex -pent) sampai ia membersihan dirinya' (HR. Abu Dawud).

Syeikh Albani meneliti hadis ini dalam "Shahih Al-Jami Al-Shaghir wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056″ dengan menyatakan bahwa hadis ini 'HASAN' pada penelitian dalam kitab "Al-Targhib 1/91″ [Ia juga menyatakan hadis ini 'Hasan' pada bukunya yang diterjemahkan dakam bahasa inggris dengan judul 'The Etiquettes of Marriage and Wedding, hal. 11]. Kemudian ia membuat pertentangan yang aneh dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Dhoif' pada penelitiannya dalam kitab "Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464″ dan menegaskan bahwa para perawi hadis ini adalah terpercaya, namun sanadnya ada yang terputus antara Al-Hasan Al-Basri dan Ammar ra., sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Mundhiri dalam Kitab 'Al-Targhib (1/91)' ?



17.Imam Malik meriwayatkan bahwa 'Ibn Abbas ra. biasanya meringkas sholatnya pada jarak perjalanan antara Makkah dan Ta'if atau Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah' . . . .
Syeikh Albani mendhoif-kan hadis ini dalam kitab "Mishkat, 1/426 no. 1351″,
tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis 'SAHIH' dalam "Irwa Al-Ghalil, 3/14″


18.Hadis : 'Tinggalkan orang-orang Ethoipia selama mereka meninggalkanmu, karena tidak seorangpun akan mengambil harta yang berada di Ka'bah kecuali seseorang yang mempunyai dua kaki yang lemah dari Ethoipia'.
Syeikh Albani telah mendhoif-kan hadis ini dalam kitab "Mishkat 3/1495 no.
5429″ dengan mengatakan bahwa : "Sanad hadis ini Dhoif". Tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya (sebagaimana kebiasannya), dengan mengoreksi penilaiannya atas hadis yang sama dalam Kitab "Shahihah, 2/415 no. 772."


19.Ia memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami dalam kitab 'Shahih Al-Targhib wa Tarhib, hal. 63′, dimana ia berkata : 'Saya ingin agar anda mengetahui satu hal yang membanggakan saya ….. dimana kitab ini telah dikomentari oleh Ulama yang terhormat dan terpandang yaitu Syeikh Habib al-Rahman al-Azami" . . . dan ia juga mengatakan pada halaman yang sama, "Dan yang membuatku lebih merasa senang dalam hal ini, bahwa kajian serta hasil penelitian ini ditanggapi (dengan baik -pent) oleh Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . ."
Syeikh Albani yang sebelumnya memuji Syeikh al-Azami dalam buku diatas, kemudian membuat pertentangan lagi dalam pengantar dari bukunya yang berjudul 'Adab Az-Zufaf' (The Etiquettes of Marriage and Wedding), edisi terbaru hal. 8, dimana ia disitu berkata : 'Al-Ansari telah menggunakan dalam akhir dari suratnya, salah satu dari musuh As-Sunnah, Hadis dan Tauhid, dimana orang yang terkenal dalam hal ini adalah Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . . . disebabkan karena sikap pengecutnya dan sedikit mengambil dari para Ulama . . . . ."


NB : (Nukilan diatas berasal dari Kitab 'Adab Az-Zufaf' , tidak ditemukan dalam terjemahan versi bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh parapengikutnya, yang menunjukkan mereka dengan sengaja tidak menerjemahkan bagian tertentu dari keseluruhan kitab tersebut). Oleh karena itu perhatikan penyimpangan ini, Wahai para pembaca yang mulia ??


20.Hadis dari Abi Barza ra. : 'Demi Allah, engkau tidak akan menemukan orang yang lebih (baik -pent) daripada diriku' (HR. An-Nasa'I 7/120 no. 4103).
Syeikh Albani mengatakan bahwa Hadis ini adalah 'SAHIH' dalam kitab "Shahih Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978″, dan secara aneh menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah 'Dhoif' dalam kitab "Dhoif Sunan Al-Nasa'i, pg. 164 no. 287."Maka berhati-hatilah dari penyimpangan ini ??


21.Hadis dari Harmala Ibn Amru Al-Aslami dari pamannya : "Melempar batu kerikil saat 'Jimar' dengan meletakkan ujung ibu jari pada jari telunjuk" (Shahih Ibn Khuzaimah, 4/276-277 no. 2874) .
Syeikh Albani sedikit saja mengetahui kelemahan dari hadis ini yang dinukil dalam "Shahih Ibn Khuzaimah", (dengan berani -pent) ia mengatakan bahwa sanad hadis ini adalah 'Dhoif', kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah 'SAHIH' pada "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 "


22.Hadis dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : "Nabi SAW pernah ditanya tentang masalah 'junub' … bolehkah ia (yaitu orang yang sedang junub -pent) makan, minum dan tidur …Beliau menjawab : 'Boleh', jika orang ini melakukan wudhu' " (HR. Ibn Khuzaimah no. 217 ; HR. Ibn Majah no. 592).
Syeikh Albani telah menuduh bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam komentarnya dalam "Ibn Khuzaimah, 1/108 no. 217″, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status dari hadis diatas dalam kitab "Shahih Ibn Majah, 1/96 no. 482 "


23.Hadis dari Aisyah ra. : 'Tong adalah tong (A vessel as a vessel), sedangkan makanan adalah makanan' (HR. An-Nasa'I , 7/71 no. 3957).
Syeikh Albani menyatakan bahwa hadis ini 'SAHIH' dalam "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 2/13 no. 1462″, kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Dhoif Sunan Al-Nasa'i, no. 263 hal. 157″ dengan menyatakan bahwa hadis ini adalah 'Dhoif'


24.Hadis dari Anas ra. : Hendaknya setiap orang dari kalian memohon kepada Allah SWT untuk seluruh kebutuhannya, walaupun untuk tali sandal kalian jika ia putus'.
Syeikh Albani menyatakan bahwa Hadis diatas adalah 'HASAN' dalam penelitiannya pada kitab "Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252″, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini dalam kitab "Dhoif Al-Jami' wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 dan 4948″


.25.Hadis dari Abu Dzar ra. : "Jika engkau ingin berpuasa, maka berpuasalah pada tengah bulan (antara tanggal -pent) 13,14 dan 15 (tiap bulan qomariyah -pent)".

Syeikh Albani menyatakan bahwa hadis ini 'Dhoif' dalam kitab "Dhoif Sunan An-Nasa'i, hal. 84″ dan pada komentarnya dalam kitab "Ibn Khuzaimah, 3/302 no. 2127″, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini sebagai hadis yang 'SAHIH' dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448″ dan juga mengoreksinya dalam kitab "Shahih An-Nasa 'i, 3/902 no. 4021″ Sungguh kontrdiksi yang sangat aneh ??
NB : (Syeikh Albani menyebutkan hadis ini dalam 'Shahih Al-Nasa'i' dan dalam 'Dhoif An-Nasa'I', yang membuktikan bahwa ia tidak memperhatikan apa yang telah ia lakukan dan kelompokkan). Betapa mengherankannya hal ini ?.


26.Hadis dari Sayidah Maymunah ra. : "Tidak seorangpun mengambil pinjaman, maka hal itu pasti berada dalam pengetahuan Allah SWT .. (HR. An-Nasa'I,7315 dan lainnya).
Syeikh Albani menyatakan dalam kitab "Dhoif An-Nasa'i, hal. 190″: " Shahih, kecuali bagian 'Al-Dunya' ". kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 5/156″, dengan mengatakan bahwa seluruh hadis ini adalah 'SAHIH', termasuk bagian 'Al-Dunya'. Lihatlah sungguh sebuah kontradiksi yang menakjubkan ??


27.Hadis dari Buraida ra. : "Kenapa aku melihat engkau memakai perhiasan para penghuni neraka" (maksudnya adalah cincin besi) (HR. AN-Nasa'I 8/172 dan lainnya).
Syeikh Albani menyatakan bahwa hadis ini adalah 'Shohih' dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540″, kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis 'Dhoif' dalam kitab "Dhoif An-Nasa'I , hal. 230″


28.Hadis dari Abu Hurairah ra. : "Siapapun yang membeli karpet untuk tempat duduk, maka ia punya waktu 3 hari untuk meneruskan atau mengembalikannya dengan catatan tidak ada noda coklat pada warnanya " (HR. An-Nasa'I 7/254 dan lainnya).
Syeikh Albani mendhoifkan hadis ini yang ditujukkan pada bagian lafadz '3 hari' yang terdapat dalam kitab "Dhoif Sunan An-Nasa'i, hal. 186″, dengan mengatakan : " Benar, kecuali bagian '3 hari' ". Akan tetapi kontradiksi yang 'jenius' kembali ia lakukan dengan mengoreksi kembali status hadis ini dan termasuk bagian lafadz '3 hari' dalam kitab "Shahih Al-Jami' wa Ziyadatuh, 5/220 no. 5804″. Jadi sadarlah (Wahai Syeikh Albani) ??


29.Hadis dari Abu Hurairah ra. : 'Barangsiapa mendapatkan satu raka'at dari sholat Jum'at maka ia telah mendapatkan (seluruh raka'at -pent)' (HR. Ibn Majah 1/356 dan lainnya).


Syeikh Albani mendhoifkan hadis ini dalam kitab "Dhoif Sunan An-Nasa'i, no. 78 hal. 49″, dengan mengatakan : "Tidak normal (Syadz), dimana lafadz 'Jum'at' disebutkan" (dalam hadis ini -pent). Kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis 'Shohih', termasuk bagian lafadz 'Jum'at' dalam kitab "Irwa, 3/84 no. 622 ." Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan-kesalahanmu ?


BERBAGAI KONTRADIKSI YANG DILAKUKAN ALBANI DALAM MENILAI PERAWI HADIS


No 38 : (Hal. 157 no 1 )

KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Syeikh Albani berkata dalam "Shahihah, 3/481″ :

"Kanaan dianggap hasan, karena ia didukung oleh Ibn Mu'in". Syeikh Albani kemudian membuat pertentangan bagi dirinya dengan mengatakan, "Hadis dhoif karena Kanaan" (Lihat Kitab "Dhoifah, 4/282″)


No 39 : (Hal. 158 no. 2 )

MAJA'A IBN AL-ZUBAIR : - Syeikh Albani telah mendhoifkan Maja'a dalam "Irwaal-Ghalil, 3/242″, dengan mengatakan bahwa: " Sanad ini lemah karena Ahmad telah berkata : Tidak ada yang salah dari Maja'a, dan Daruqutni telah melemahkannya …".


Syeikh Albani kemudian membuat kontradiksi lagi dalam kitab "Shahihah, 1/613″,dengan mengatakan : "Orang ini (perawi hadis) adalah terpercaya kecuali Maja'a, dimana ia adalah seorang perawi hadis yang baik". Sungguh kontradiksi yang 'menakjubkan' ?


No 40 : (Hal. 158 no. 3 )

UTBA IBN HAMID AL-DHABI : - Syeikh Albani telah mendhoifkannya dalam kitab "Irwa Al-Ghalil, 5/237″, dengan mengatakan : 'Dan ini adalah sanad yang dhoif karena tiga sebab … Salah satunya adalah sebab kedua, karena lemahnya Al-Dhabi, Al-Hafiz berkata : "perawi yang terpercaya namun sering salah (dalam meriwayatkan hadis -pent)".


Syeikh Albani kembali membuat kontradiksi yang sangat aneh dalam kitab "Shahihah, 2/432″, dimana ia menyatakan bahwa sanad yang menyebutkan Utba : "Dan ini adalah sanadnya hasan, Utba ibn Hamid al-Dhabi adalah perawi terpercaya namun sering salah, dan sisanya dalam sanad ini adalah para perawi yang terpercaya ???


No 41 : (Hal. 159 no. 4 )

HISHAM IBN SA'AD : Syeikh Albani berkata dalam kitab "Shahihah, 1/325″ : "Hisham ibn Sa'ad adalah perawi hadis yang baik." Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Irwa Al-Ghalil, 1/283″ dengan menyatakan: "Akan tetapi Hisham ini lemah hafalannya". Lihat betapa 'menakjubkan' ???


No 42 : (hal. 160 no. 5 )

UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Syeikh Albani telah melemahkannya dalam kitab "Shahihah, 1/371″, dimana ia berkata : "Ia sendiri sebetulnya adalah terpercaya namun ia pernah melakukan pemalsuan yang sangat buruk yang membuatnya tidak terpercaya..". Syeikh Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab "Sahihah, 2/259″ dengan menerimanya dan menggambarkannya sebagai perawi yang terpercaya pada sanad yang didalamnya menyebutkan Umar ibn Ali. Syeikh Albani berkata : "Dinilai oleh Al-Hakim, yang berkata : 'A shohih isnad (sanadnya shohih -pent)', dan Adz-Dzahabi menyepakatinya, dan hadis (statusnya -pent) ini sebagaimana yang mereka katakan (yaitu hadis shohih -pent)." Sungguh 'menakjubkan' ?


No 43 : (Hal. 160 no. 6 )

ALI IBN SA'EED AL-RAZI : Syeikh Albani telah melemahkannya dalam kitab "Irwa, 7/13″, dengan menyatakan : "Mereka tidak mengatakan sesuatu yang baik tentang al-Razi." Syeikh Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab-nya yang lain yang 'menakjubkan' yang ia karang yaitu kitab "Shahihah, 4/25″, dengan berkata : "Ini sanad (hasan) dan para perawinya adalah terpercaya". Maka berhati-hatilah ??


No 44 : (Hal. 165 no. 13 )

RISHDIN IBN SA'AD : Syeikh Albani berkata dalam kitabnya "Shahihah, 3/79″ : "Didalamnya (sanad) ada perawi bernama Rishdin ibn Sa'ad, dan ia telah dinyatakan terpercaya". Tetapi ia kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa ia adalah 'Dhoif' dalam kitab "Dhoifah, 4/53″; dimana ia berkata : "Dan Rishdin ibn Sa'ad adalah Dhoif". Maka berhati-hatilah dengan hal ini


No 45 : (Hal. 161 no. 8 )

ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA'AD : Sungguh aneh pernyatan Syeikh Albani ini ?? Dia berkata dalam kitab "Irwa A-Ghalil, 2/228″: 'Statusnya tidak diketahui dan hanya Ibn Hibban yang mempercayainya". Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri sebagaimana biasanya karena ia hanya menukil dari kitab dan tidak ada hal lain yang ia lakukan, kemudian ia sebatas menukilnya tanpa pengetahuan yang memadai, hal ini terbukti dalam kitab "Shahihah, 1/450″, dimana ia berkata mengenai Ashath : "Terpercaya". Sungguh 'menakjubkan' apa yang ia lakukan ?


No 46 : (hal.162 no. 9 )

IBRAHIM IBN HAANI : Yang mulia Yang Jenius Sang Peniru telah membuat Ibrahim Ibn Hani menjadi perawi terpercaya disatu tempat dan menjadi tidak dikenal (majhul) ditempat yang lain. Syeikh Albani berkata dalam kitab 'Shahihah, 3/426′: "Ibrahim ibn Hani adalah terpercaya", Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri seperti yang ia tulis didalam kitab "Dhoifah, 2/225″, dengan menyatakan bahwa 'ia tidak dikenal dan hadisnya tertolak' ??


No 47 : (Hal. 163 no. 10 )

AL-IJLAA IBN ABDULLAH AL-KUFI : Syeikh Albani telah meneliti sebuah sanad kemudian menyatakan bahwa sanad tersebut baik dalam kitab "Irwa, 8/7″, dengan kalimat : "Dan ini adalah sanad yang baik, para perawinya terpercaya, kecuali untuk Ibn Abdullah Al-Kufi yang merupakan orang yang terpercaya". Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri dengan mendhoifkan sanad yang didalamnya terdapat Al-Ijla dan menjadikan keberadaannya (yaitu Al-Ijla -pent) untuk dijadikan sebagai alasan bahwa hadis itu 'Dhoif' (Lihat kitab 'Dhoifah, 4/71′); dimana ia berkata :" Ijla Ibn Abdullah adalah lemah ". Syeikh Albani lalu menukil pernyataan Ibn Al-Jauzi (Rahimahullah), dengan mengatakan bahwa : "Al-Ijla tidak mengetahui apa yang ia katakan" ??


No 48 : (Hal. 67-69 )

ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Syeikh Albani telah mengkritik Al-Hafiz Al-Haitami, Al-Hafiz Al-Suyuti, Imam Munawi and Muhaddis Abu'l Fadl Al-Ghimari (Rahimahullah) dalam bukunya "Silsilah Al-Dhoifah, 4/302″, ketika meneliti sebuah sanad hadis yang didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih. Ia berkata di halaman 300 : "Bagaimana sebuah hadis yang didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih akan menjadi baik dan hadisnya menjadi bagus, meskipun ia banyak melakukan kesalahan dan ketelitiannya yang kurang, serta ia pernah memasukkan sejumlah hadis yang bermasalah dalam kitabnya, dan ia menukil hadis-hadis itu tanpa mengetahui (status -pent) darinya". Ia tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih adalah salah seorang dari perawi Imam al-Bukhari (yaitu para perawi yang digunakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shohih-nya -pent), hanya karena hal ini 'tidak cocok dengan seleranya', dan ia juga tidak menyebutkan bahwa Ibn Mu'in dan sejumlah kritikus hadis ternama telah menyatakan bahwa mereka adalah 'terpercaya'. Tetapi kemudian ia menentang dirinya sendiri pada bagian lain dari kitabnya dengan menjadikan hadis yang didalam sanadnya terdapat Abdullah Ibn Salih sebagai hadis yang baik, dan inilah nukilannya :


Syeikh Albani berkata dalam Silsilah Al-Shahihah, 3/229″ : "Dan sanad hadis ini baik, karena Rashid ibn Sa'ad adalah terpercaya menurut Ijma' (kesepakatan para Ulama hadis -pent), dan siapakah yang lebih darinya sebagai perawi dari hadis Shohih, dan didalamnya terdapat Abdullah Ibn Salih yang pernah mengatakan sesuatu yang tidak membahayakan dengan pertolongan Allah SWT" ?? Syeikh Albani juga berkata dalam "Sahihah, 2/406″ tentang sanad yang didalamnya terdapat Ibn Salih : "Sanadnya baik dalam hal ketersambungannya" dan ia katakan lagi dalam kitab "Shahihah 4/647″ : "Hadisnya baik karena bersambung".


PENUTUP


Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh 'Yang Terhormat Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Nashiruddin Syeikh Albani' MASIH ADA LAGI SEKITAR 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar 'Al-Muhaddis' (Ahli Hadis) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadis dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan 'Para Masyaik'h yang memang ahli dalam bidang ini.


Dan Para Ulama telah menetapkan kriteria yang ketat agar hanya benar-benar hanya 'orang yang memang memenuhi kriteria sajalah' yang layak menyadang gelar ini seperti yang diungkapkan oleh Imam Sakhowi tentang siapa Ahli Hadis (muhaddis) itu sebenarnya :


"Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis), dan mengomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan. Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi -pent) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis. Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai-pent ) perhiasan lu'lu (permata-pent) dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni -pent). Dan hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya ,bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddis bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam" ( Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1hal. 40-41).


Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah 'Para Muhaddis' generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa'I, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi ,Imam Ibn Hibban dll.


Sehingga apakah tidak terlalu berlebihan (atau bahkan termasuk Ghuluw -pent) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dkk -pent) dengan sebagian Syeikh yang tidak pernah menulis hadis, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan, melakukan perjalanan mencari hadis atau bahkan memberikan kontribusi pada perkembangan Ilmu hadis yang mencapai seribu karangan lebih ?.


Sehingga bukan Sunnah Nabi yang dibela dan ditegakkan, malah sebaliknya yang muncul adalah fitnah dan kekacauan yang timbul dari pekerjaan dan karya-karyanya, sebagaimana contoh-contoh diatas.


Ditambah lagi dengan munculnya sikap arogan, dimana dengan mudahnya kelompok ini menyalahkan dan bahkan membodoh-bodohkan para Ulama, karena berdasar penelitiannya (yang hasilnya (tentunya) perlu dikaji dan diteliti ulang seperti contoh diatas), mereka 'berani' menyimpulkan bahwa para Ulama Salaf yang mengikuti salah satu Imam Madzhab ini berhujah dengan hadis-hadis yang lemah atatu dhoif dan pendapat merekalah yang benar (walaupun klaim seperti itu tetaplah menjadi klaim saja, karena telah terbukti berbagai kesalahan dan penyimpangannya dari Al-Haq).


Oleh karena itu para Ulama Salaf Panutan Umat sudah memperingatkan kita akan kelompok orang yang seperti ini sbb :


* Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermadzab Hanafi menukilpendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya 'Daf' Al-Auham An-Masalah AlQira'af Khalf Al-Imam', hal. 15 : "Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan ,padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan madzab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah madzab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadis Rasul SAW. Padahal hadis ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya. Dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang ".

* Al-Hafidz Ibn Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami' Bayan Al-Ilmu, juz 2hal. 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibn Laila bahwa ia berkata : " Seorang tidak dianggap memahami hadis kalau ia mengetahui mana hadis yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan".

* Al-Qodhi Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2hal. 427; Ibn Wahab berkata : "Kalau saja Allah tidak menyelamatkanku melalui Malik Dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, 'Aku banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata : "Ambillah dan tinggalkan itu".

* Imam Malik berpesan kepada kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); "Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadis) serta mempelajarinya ?, Mereka menjawab : 'Ya' , Beliau berkata : Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadis ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam ". Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanadnya dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqih juz IIhal. 28.

* Al-Khotib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih, juz IIhal. 15-19, duatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzniy, pewaris ilmu Imam Syafi'i. Pada bagian akhir Al-Muzniy berkata : " Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqoha agar kalian menjadi ahli fiqh".

* Dalam kitab Tartib Al-Madarik juz Ihal. 66, dengan penjelasan yang panjang dari para Ulama Salaf tentang sikap mereka terhadap As-Sunnah, a.l :


1. Umar bin Khotab berkata diatas mimbar: "Akan kuadukan kepada Allah orang yang meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan yang diamalkan".

2. Imam Malik berkata : "Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi'in telah menyampaikan hadits-hadits, lalu disampaikan kepada mereka hadis dari orang lain, maka mereka menjawab : "Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini. Tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini" .

3. Ibn Hazm berkata: Abu Darda' pernah ditanya : "Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadis begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab: "Saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamalannya tidak seperti itu" .

4. Ibn Abi zanad , "Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha untuk menanyai mereka tentang sunnah dan hukum-hukum yang diamalkan agar beliau dapat menetapkan. Sedang hadis yang tidak diamalkan akan beliau tinggalkan, walaupun diriwayatkan dari para perawi yang terpercaya". Demikian perkataan Qodhi Iyadh.

5. Al- Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl 'Ilm As-Salaf 'ala Kholaf'hal.9, berkata: "Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadis sesungguhnya mengikuti hadis shohih jika hadis itu diamalkan dikalangan para Sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan".


Sehingga cukuplah hadis dari Baginda Nabi SAW berikut untuk mengakhiri kajian kita ini, agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya :


Artinya : "Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para 'Ruwaibidhoh'. Ada yang bertanya : 'Apa itu 'Ruwaibidhoh' ?. Beliau menjawab : "Orang bodohpandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak" (HR. Al-Hakim jilid 4hal. 512No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadis ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2hal. 1339no. 4036; HR. Ahmad jilid 2hal. 219,338No. 7899,8440; HR. Abi Ya'la jilid 6hal. 378no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18hal. 67No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7hal. 284 dalam Majma' Zawa'id).


Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibn Abdil Barr berikut: " Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama , golongan yang tenggelam dalam ra'yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh " (menyampaikan hadis, tetapi tidak mengetahui isinya -pent) (Dirangkum dari Jami' Bayan Al-Ilm juz IIhal. 171).


Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I'lamu Al-Muwaqqi'in juz Ihal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: " Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi SAW, perbedaan Sahabat dan Tabi'in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar".

WALLAHU A'LAM

Source:https://www.facebook.com/notes/abu-nawas/baca-ini-daftar-kesembronoan2-yang-dilakukan-albani-didalam-meneliti-hadits-ahli/355479107902509

INILAH KAPASITAS KEILMUAN ALBANI MENURUT SALAH SEORANG AHLI HADITS ASLI

Ini adalah petikan dari Arrasail al ghomariyah dalam penyanggahan atas Nashir al albani.
sayyidy Abdullah bin Ashiddiq al ghomari ra berkata:

…..dia adalah Nashiruddin, al albani adalah asalnya(Albania).

Pada awalnya dia ber I’itikaf di dalam kamar perpustakaan “Al Dzahiriyah” Damaskus disana dia berkutat membaca buku dan betah untuk membaca.

Setelah itu dia menyangka bahwa dirinya telah menjadi profesional dalam urusan agama. Dia memberanikan diri untuk berfatwa dan mentashhieh hadits atau mendha’ifkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Juga dia berani menyerang ulama yang mu’tabar(yang berkompeten di bidangnya)padahal dia mandakwa bahwa “hafalan”hadits telah terputus atau punah.


Maka akibatnya bisa anda saksikan terkadang dia menganggap buruk pendapat para ulama juga mendha’ifkan hadits yang baik-baik dan menganggapnya lemah,sampai sampai shahih Bukhari dan shahih Muslim pun tidak selamat dari koreksinya.

Berdasarkan hal tersebut(dia tdk berguru) maka isnadnya maqthu’(silsilah keilmuannya terputus)dan kembali kepada kitab kitabnya yang ia teliti,kembali kepada juz juz yang ia baca dengan tanpa Talaqqi(belajar kepada guru).

Dia pernah mendakwakan dirinya sebagai kholifah(penerus) Assyaikh Badruddin Al Hasani(salah satu guru Al Ghomari,pen)yang beliau adalah seorang ulama yang tidak pernah terlepas dari biji tasbih dari tangannya meskipun sedang mengajar,dan anehnya ia menganggap bid’ah kepada orang yang mengenakannya(biji tasbih).

Lalu dia (al Albani) mendakwakan dirinya telah mencapai derajat “penghafal hadits” dan mampu mentashhieh hadits sehingga pengikut pengikutnya menyangka bahwa dia adalah “MUHADDITS” dunia seluruhnya. Apakah dengan sekedar ijazah dari sangkaan seseorang lantas dia boleh berbicara /koreksi atas hadits Rasulillah saw..??

Kemudian berdasarkan PERSAKSIAN DARI PARA ULAMA DI ZAMANNYA dari para ulama Dimasyq menyatakan bahwa dia tidak hafal matan- matan hadits apalagi sanad -sanadnya. Bahkan KEILMUANNYA tidak mencapai untuk menilai sebuah matan hadits kemudian meneliti rijal(para perowi)nya di kitab kitab “Al Jarh watta’diil”,sehingga berangkat darin itu semua dia menghukumi sebuah hadits dengan menshahihkan dan mendha’ifkan nya dalam keadaan “TIDAK TAHU” bahwa sebuah hadits mempunyai jalan riwayat,syawahid (hadits lain sebagai saksi penopang)dan mutaba’at(penelusuran susulan). Dia juga lupa bahwa seorang “AL HAFIDZ”(penghafal 100 ribuan hadits sanad dan matannya) mempunyai “otoritas” menshahihkan dan mendha’ifkan sebuah hadits sebagaimana yang di katakan oleh Al Hafidz Assuyuthy dalam “AL FIYAH” nya(kitab nadzom ilmu hadits diroyah 1000 bait)

كَما قَال السُيوطِي فِي ألفيته:
وخذه حَيث حَافظ عليه نص ** أو من مصنَّف بِجمعه يخص


artinya:
Maka ambillah hadits ketika telah di” nash” oleh seoranh Al Hafidz………atau dari kitab susunannya yang khushus untuk kodifikasi hadits tersebut.

Begitulah hukum sebenarnya dimana bahwa ilmu agama tidak diambil dari “MUTHOLA”AH” atas kitab-kitab ansich dengan mengesampingkan “TALAQQI”(mengaji)kepada AHL AL MA’RIFAH WA AL TSIQOH(ahli pengetahuan khushush dan dapat dipercaya)dikarenakan terkadang dalam beberapa kitab terjadi “penyusupan” dan “PENDUSTAAN” atas nama agama atau terjadi pemahaman yang berbeda dengan pengertian para “salaf” maupun “kholaf” sebagaimana mereka(para ulama) saling memberi dan menerima ilmu agama dari satu generasi ke generasi lainnya maka pemahaman yang berbeda dengan ulama salaf maupun kholaf itu dapat berakibat kepada pelaksanaan “IBADAH FASIDAH”(ibadah yang rusak)atau dapat menjerumuskan kedalam “TASYBIHILLAH BIKHOLQIHI”(penyerupaan Allah dengan Makhluq Nya)atau implikasi negative lainnya.

Cara seperti itu adalah bukan cara “belajar” dan cara menuntut ilmu yang dilakukan ulama salaf dan kholaf sebagaimana yang telah dikatakan oleh AL HAFIDZ ABU BAKAR AL KHATHIB AL BAGHDADY:…..”ILMU TIDAK DAPAT DIAMBIL KECUALI DARI MULUT PARA ULAMA”.

Maka jelaslah tidak diperbolehkan mempelajari ilmu agama kecuali dari orang yang “arif” dan tsiqoh yang mengambil ilmu dari tsiqoh………..dst sampai ke para shahabat ra. Sehingga orang yang mengambil Al Qur’an dari Mushhaf dinamakan “MUSHHAFY” tidak dapat disebut “QARI’’ begitulah seperti yang dikatakan Al Hafidz Khathib Al Baghdady alam kitabnya yang berjudul “alfaqih wal mutafaqqih” bersumber dari sebagian ulama salaf.

Cukuplah bagi kita sebagai anjuran untuk “talaqqi”(menerima ilmu dari guru)sebuah hadits Nabi saw:

:"مَن يُرد الله بهِ خَيراً يُفقّهه فِي الدِين, وفِي رِوَاية زيادة: "إنَما العِلم بالتعلُمِ, والفِقه بالتفقّه

Artinya: barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah swt maka ia diberi pemahaman dalam agamadalam sebuah riwayat ada tambahan…”bahwa ilmu hanya(didapat)dari belajar….(HR.AL BUKHORY,MUSLIM,AHMAD DI MUSNADNYA DAN LAIN LAIN)

Terdapat juga di al mu’jam al kabir imam thabrany 19/395 Al Hafidh di Al Fath mengatakan "Isnadnya baik" 131/1

ورَوى مُسلم فِي صحيحهِ عَن ابن سِيرين أنهُ قَال: " إنّ هَذا العِلم دِين فانظرُواعمّن تأخذُون دينكُم".

Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Ibnu Sirin ia berkata:”bahwa ilmu ini adalah Agama maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian"

أخرجهُ مُسلم فِي صَحيحهِ: المُقدمة: بَاب بَيان أن الإسنَاد مِن الدِين, وأنَ الرِوَاية لا تكُون إلاّ عَن الثقات, وان جرح الرواة بِما هُو فيهم جَائِز بَل وَاجِب وأنهُ ليسَ مِن الغِيبة المُحرّمة بَل مِن الذبّ عَن الشَريعة المُكرّمة


Hadits tadi diriwayatkan imam Muslim di Muqaddimah shahihnya bab: menerangkan bahwa isnad itu bagian agama dan bahwa meriwayatkan hadits itu tidak boleh terjadi kecuali dari orang yang tsiqot(dipercaya)dan bahwa mencela “periwayatan” itu diperbolehkan asal sesuai dengan kenyataan bahkan wajib bukan termasuk “GHIBAH” yang diharamkan namun dengan tujuan “mempertahankan” syari’at yang dimuliakan.

Imam Abu Hayyan Al Andalusy berkata:
وقَال أبو حَيان الأندلسِي:
يظنّ الغُمْرُ أن الكُتْبَ تَهدي ** أخَا جَهلٍ لإدْراكِ العُلومِ
ومَا يَدري الجهولُ بأنّ فِيها ** غَوامِض حَيّرت عَقلَ الفهيمِ
إذا رُمت العُلومَ بغيرِ شيخٍ ** ضللتَ عَن الصِراط المُستقِيم
وتلتَبِسُ الأمُورُ عليكَ حَتى ** تصيرَ أضلَّ مِن تُوما الحَكيم


Artinya:
khalayak ramai menyangka bahwa kitab kitab itu dapat menuntun orang bodoh untuk menggapai ilmu……padahal orang yang amat bodoh tidak tahu bahwa di dalam kitab kitab itu banyak masalah rumit yang membingungkan akal orang cerdas.

Apabila engkau mencari ilmu tanpa guru…..maka engkau dapat tersesat dari jalan yang lurus.
Maka segala hal yang berkaitan akan menjadi samar buatmu hingga engkau menjadi lebih sesat disbanding si Thomas (Ahli filsafat).
(hasyiyah Al Thalib ibnu Hamdun ala lamiyat al ‘af’al hal 44)

Assyaikh Habiburrahaman al A’dzhami Muhaddits daratan India berkata dalam Muqaddimah bantahan nya terhadap Al Albany dengan judul “mablagh ilm al Albany(kapasitas keilmuan Al Albany)dengan teks sebagai berikut….

“Syekh Nashiruddin Al Albany adalah orang yang sangat menyukai untuk menyalahkan orang orang yang sangat brilian dari kalangan pembesar para ulama dan dia tidak memperdulikan siapapun orangnya.Maka dapat anda lihat terkadang dia melemahkan riwayat Imam Bukhary dan Imam Muslim dan ulama lainnya yang dibawah level ke dua imam tadi………dan hal itu terjadi di banyak tempat sehingga sebagian orang yang BODOH dan yang terbatas pemikirannya dari kalangan ulama menyangka bahwa Al Albani adalah orang yang profesional pada abad ini dan kemahirannya jarang ditemukan semacam dia di era sekarang. Semacam inilah hal yang dibanggakan olehnya di berbagai tempat dengan mengeluarkan kotorannya sehingga para pembaca melirikkan pandangan mereka dan terkadang dia mengatakan :”aku mendapatkan tahqiq(pernyataan) semacam ini dan tidak akan kau temukan di lain tempat(maksudnya di kitab lain-yang menurut dia- tidak terdapat pernyataan semacam itu).

terkadang dia mendakwa bahwa dirinya “di istimewakan” oleh Allah di abad ini untuk meneliti atas hadits hadits tambahan dalam kondisi perbedaan riwayatnya yang tersebar di kitab kitab yang berserakan sehingga ia telah mencapai hal yang belum pernah diraih para Muhaqqiqqiin yang telah lampau maupun yang akan dating.

Namun orang yang “mengenal” al Albany dan orang yang meneliti biografinya ia pasti mengetahui bahwa dia tidak mendapatkan ilmu dari “MULUT PARA ULAMA” dan dia belum pernah duduk bersimpuh di depan pengajian para ulama ,padahal ilmu itu harus didapat dengan cara ta’allum(mengaji).

Ada berita sampai kepada saya bahwa hafalan kitabnya tidak melebihi “mukhtashor al qodury” dan profesi keahlian sebenarnya adalah “mereparasi jam” yang dirinya mengakui hal ini dan membanggakannya.padahal cara mendapatkan ilmu dengan ta’allum tersebut adalah hal yang telah lazim dikenal dikalangan pelajar hadits di seluruh madrasah kami(india).Begitulah apa yang telah dinyatakan oleh Assyaikh Muhaddits diyar al Hindiyah الألبَانِي أخطاؤه وشُذوذه 1/9

Inilah kapasitas keilmuan al albany,maka bila kau membaca kitab kitabnya akan kau temukan tanda yang jelas karena dia menyebut apa yang ia katakan shahieh akan berlawanan dengan apa yang dikatakan dengan dha’ief hingga kau temukan dia merubah hadits hadits Nabi saw dengan sesuatu yang tidak boleh diakukan oleh Ahlul ilmi bil hadits. Pada akhirnya dia mendha’ifkan yang shahieh dan menshahiehkan yang dhai’ef. Ini adalah polah tingkah orang yang belum pernah menghirup aroma “ILMU” dan cara orang yang belum pernah mengenal para “GURU” dan belum pernah “SAMA’ “dari teks teks lafadz mereka. Saya tidak melihat dia kecuali orang yang membaca kitab dan menganggap bahwa mencari ilmu itu tidak butuh terhadap bimbingan dan talaqqi para guru. Padahal kita sungguh mengetahui bahwa seorang penghafal hadits tidak hanya mencukupkan diri dengan muthala’ah tanpa berkeliling mencari ilmu dari para guru dari biografi mereka dan mereka sama’(mendengar riwayat hadits) sebagaimana orang orang sebelum mereka ber sama’ kepada para guru ……begitulah adat kebiasaan “AHLI -ISNAD”.

Termasuk diantara “cacat” al Albany adalah dia berani mengkoreksi Imam imam besar,cukuplah sebagai celaan bahwa dia mengkoreksi dan berani terhadap hadits Shahih imam bukhory dan shahieh Imam Muslim,oh….seandainya saja dia mendhaifkan hadits hadts tadi berdasarkan ilmu dan ma’rifah…..namun sayang dia mendhaifkannya karena “KEBODOHAN” dan keculasan.

Siapapun orang yang mau melihat kitab kitabnya dengan pemahaman dan pengetahuan yang baik dan menjauhkan diri dari “ta’ashshub”(fanatisme)dan buang jauh jauh kebodohan yang berbahaya maka akan menjadi jelas bagi dia bahwa “AL ALBANY” adalah orang yang sangat lemah dalam ilmu hadits baik matannya maupun rijalnya.

Diantara cacat Al Albany yang fatal adalah dia menuduh orang yang mengingkarinya dengan si “pembuat bid’ah” dan dia sendiri lah yang sunny dengan pengikutnya sehingga berhak masuk sorga dan penentangnya adalah ahlulbid’ah yg akan masuk neraka. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mencapai “kemasyhuran” dia ingin menjadi yang terhebat di zamannya dan mengungguli pendahulu pendahulunya.

Kesimpulannya Al Albany dan fatwa fatwa dan istinbathnya adalah merupakan “BENCANA” untuk kaum muslimin. Bisa anda lihat bagaimana dia membid’ahkan berdzikir dengan biji tasbih,membaca al Qur’an untuk mayyit….juga di kitab kitabnya banyak kesesatan yang nyata apalgi di syarah Al Thohawy. Maka sesuai dengan pernyataan di atas apa yang dikatakan oleh Assyaikh Muhammad Yasin Al fadany yang masyhur bahwa Al Albany itu “Dhaallun mudhillun”(sesat dan menyesatkan).


Juga sesuai dengan pernyatan Syaikh Al Muhaddits Habiburrahman: ketika aku membaca karangan al albani dalam pembahasan seperti ini dan yg lainnya ,aku menjadi teringat hadits Nabi saw:

إن ممَا أدرَك النَاس مِن كلام النُبوة الأولى إذا لَم تستحِ فاصْنع مَا شِئت".

“sungguh apa yang dapat di tangkap oleh manusia dari perkataan Nubuwwah yang pertama adalah “kalau kau tidak tahu malu maka berbuatlah sesukamu…”

Sekarang kami katakan kepada para pengikut Al Albani dan yang terbujuk rayu ucapan-ucapannya dan kepada orang orang yang tertipu dengan slogan slogannya …”kembalilah kalian kedalam ajaran yang baik yang sudah ada, ikutilah jalan para Abror…..ikutilah jalan yang lurus campakkan jalan orang yang menyimpang dari “Annahj al mustaqiim”….

Takutlah kalian untuk memberanikan diri atas kalam Rasulillah saw dengan tanpa didasari ilmu,jangan kalian terperdaya oleh orang yang sesat meskipun dia mempunyai puluhan karangan dan buku.

Oh…..betapa buruknya keberanian mengkoreksi dan berkecimpung tanpa ilmu atas hadits Nabi saw.
Ya Allah kami memohon kepada Mu keselamatan dan penjagaan …..
Allah swt berfirman:

قَال الله تَعالى: (وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمُ إنَّ السَّمْعَ والبَصَرَ والفُؤَادَ كُلُ أوْلئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً) 36 [ سُورة الإسراء]."

(janganlah kau ikuti apa yang kamu tidak mengetahui karena pendengaran,pengelihatan dan hati itu semuanya akan dipertanggung jawabkan…)……
sekian.


*) NOTE:
Perlu untuk di ketahui bahwa Alhafidh Abdullah al Ghumari Al Hasany adalah Al Allamah di bidang hadits dan ilmu lain. Pada awalnya Hafalan hadits beliau mencapai 50.000 hadits baik sanad maupun matannya,namun setelah beliau meninggal banyak ulama yang menjuluki Al Hafidz..diantara murid beliau adalah Mufty Addiyar al mishriyah Al Allamah al Imam Ali Jum’ah.

Source:https://www.facebook.com/notes/abu-nawas/inilah-kapasitas-keilmuan-albani-menurut-salah-seorang-ahli-hadits-asli/355489901234763